Katanya "Nasihat Pernikahan"

Pernikahan bukan dongeng. Tidak ada putri yang selalu tersenyum di pagi hari, dan tidak ada pangeran yang selalu pulang membawa bunga. Tapi justru di situlah letak keajaibannya.

Pernikahan adalah tentang dua manusia biasa yang memilih untuk tetap tinggal, bahkan ketika hari-hari tak lagi seromantis awal jumpa.

Ia bukan tentang menemukan seseorang yang sempurna. Tapi tentang saling menerima ketidaksempurnaan, dan tetap berkata, "Aku di sini, bersamamu."

Akan ada hari-hari ketika cinta terasa biasa saja. Tak ada debar, tak ada kejutan, hanya rutinitas dan diam yang panjang. Tapi justru di hari-hari itulah, pernikahan diuji. Bukan oleh badai besar, melainkan oleh waktu yang pelan-pelan mengikis jika tak dijaga.

Pernikahan bukan tentang menang dalam debat, tapi tentang mengalahkan ego. Bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang lebih dulu memilih tenang. Kadang cinta tidak tumbuh dari kalimat manis, tapi dari cucian yang dibantu tanpa diminta, dari genggaman tangan saat hati sedang lelah.

Dan ingatlah: mencintai setelah menikah bukan perkara perasaan saja. Ia adalah keputusan yang diulang setiap hari. Tentang bagaimana kamu memilih untuk tetap mencintai pasanganmu, bahkan ketika kamu sedang tidak menyukainya.

Jangan berharap pasanganmu selalu paham isi hatimu ia bukan cenayang. Bicaralah. Dengarkan. Saling mengabarkan perasaan, seperti dua sahabat yang tak lelah untuk belajar satu sama lain.

Karena pernikahan bukan garis akhir dari cinta, tapi justru titik mula dari perjuangan mencintai, berulang kali, dalam bentuk-bentuk baru. Dan yang paling penting berdoalah. Karena sekuat apa pun cinta manusia, ia tetap butuh Tuhan sebagai penopangnya. Jangan hanya saling mencintai satu sama lain, tapi hadirkan Tuhan ketika hati saling mencintai.

Posting Komentar

0 Komentar