Orang percaya jika mimpi selalu
punya kekuatan tersembunyi. Kekuatan yang akan menggerakkan syaraf-syaraf
harapan yang tersimpan diantara dua tembok, keyakinan dan keragu-raguan. Putaran
roda kehidupan yang bernama waktu, pada akhirnya akan menguji semuanya. Tabu
memang, jika kita terus membicarakan kejadian-kejadian esok yang belum tentu
tersaji dalam layar kehidupan kita. Alurnya yang tersimpan misteri, selalu
menghadirkan kegundahan dan rasa ingin tahu bagi jiwa-jiwa yang tergantung
dalam ranting pohon yang kering.
“Hemmm…..manusia memang mahluk
komplek, kadang bisa bahagia untuk sesuatu yang tak seharusnya, tapi kadang
pula bersedih untuk hal-hal yang sederhana. Saya mencoba mengabaikan semua
pemandangan itu, tapi ruang bawah sadar saya selalu aktif untuk meresponnya. Kadang saya
bertanya, kenapa manusia tidak bisa menikmati masa-masa yang dia punya. Apakah manusia
lebih memilih penyesalan ketimbang berpacu diri memperbaiki apa yang ada???.” Sekilas
diskusi diri dalam keengganan untuk menyatu dengan lingkungan fatamorgana.
Ya….disini kita hidup dalam
sajian teatrikal dan drama yang tak berujung. Kita hanyalah aktor-aktor yang
dibuat tak berdaya oleh keangkuhan kita sendiri. Kita kadang tidak menyadari
apa yang sebenarnya sudah kita katakan. Kita kadang lupa bagaimana caranya
belajar mendengar dan menghargai mereka yang telah menghargai. Kita hanya tahu
bagaimana caranya marah, kita hanya tahu bagaimana caranya menghancurkan
harapan, tapi lupa bagaimana caranya memperbaiki.
Entahlah, yang pasti setiap pagi
saya hanya mencoba mengumpulkan kembali puing-puing impian yang mulai
berserakan. Saya mulai menutup tirai diri tuk tidak lagi menjadi manusia yang banyak
berkata, bercerita atau bahkan terlalu akrab dengan yang lain. Karena suka ataupun tidak, akhirnya saya harus memilih. Biarkan dunia bebas
menafsirkan siapa saya, sebebas burung yang terlepas dalam sangkarnya.
Melawan adalah kata “lawan” yang
harusnya mandiri dan tidak perlu mendapat imbuhan –me jika kita hanya
berhadapan dengan mahluk-mahluk yang terlalu asyik dengan pengalamannya
sendiri. Biarkan lembaran-lembaran yang tak membahagiakan itu berlalu, tanpa
lipatan atau coretan kemarahan.
Kala senja itu datang, nikmatilah
dengan segenap ketulusan untuk menjadi manusia bijak. Yah, bijak untuk tidak menghabiskan waktu mendengar irama sumbang apalagi merespon daun-daun
keputusasaan dalam ranting kepalsuan.
“Biarkan Senja Berlalu”
By Syambadaba
0 Komentar