Jalan Lain







 “Kebaikan besar hanya diingat dalam beberapa saat, 
keburukan kecil diakhir akan diingat sampai menutup usia”.


Hidup bak sajian drama picisan, yang terlalu satir untuk ditorehkan dalam kalimat santun yang penuh basa-basi. Terlalu naïf jika kita selalu membayangkan alur yang tulus tanpa meraba beragam kepentingan dan segala rupa kepicikan.

Seorang filsuf kenamaan abad pertengahan pernah berujar  “Homo homini lupus, manusia bisa jadi srigala bagi sesamanya”. Cerita sadis ini memang bukan untuk ditutupi atau dibuang dalam sajian drama kehidupan. Tak perlu malu untuk mengakuinya, tak perlu pula takut untuk melihatnya.  Hanya sekedar untuk dipahami, disadari dan sekiranya bisa juga menjadi bahan berharga untuk kita simpan.

Keangkuhan atau entah apa itu namanya, seolah menjadi klaim moral yang tak lagi bisa ditawar. Atas nama kehormatan dan martabat, setiap jiwa bisa mendefinisikan apapun tentang jalan cerita yang tersaji. Tirani yang tertuang dalam kata “seharusnya” atau “selayaknya” menjadi ampuh untuk memaksa orang yang tak sejalan dengan kehendaknya.

Entah lah……kenyataannya beberapa orang dilahirkan untuk menerima begitu saja, sementara yang lain dilahirkan untuk bebas menindas bagi yang lainnya, bahkan tertawa lepas dan bahagia atas ketidakberdayaan orang lain.

Disekelilingku kehidupan terus bersenandung, menyajikan cerita semacam rutinitas yang membosankan. Silih berganti dengan rona kebekuan yang sama tanpa henti, seperti teraturnya terbit dan terbenamnya matahari dalam semacam siklus yang tak putus. Cerita atau  Kesalahan kecil akan menjadi cerita yang ampuh nan menghibur bagi manusia yang bangga atas kesombongan dirinya.

Tapi dunia ditakdirkan untuk seimbang, tak selamanya takdir memaksa kita menjadi manusia yang lemah dan rapuh atas tirani roda yang berputar. Konon ada keajaiban yang tersimpan jika memilih sebuah jalan lain. Yah jalan untuk melawan, konsisten, fokus dan sabar dalam meraih apa yang disebut mimpi, dengan kapasitas harus melebihi sarana yang ada.

Berjuang tanpa ampun
 memaafkan tanpa merendahkan diri
 berteman tanpa menjatuhkan
 berjalan tanpa meninggalkan prinsip

By Syambadaba














Posting Komentar

0 Komentar