Pilkada DKI baru saja akan segera
digelar kembali pada 2017 mendatang, namun saat ini sudah banyak beredar kabar
tentang siapa saja calon-calon yang akan maju dalam Pilkada DKI 2017 nanti.
Menurut berita yang beredar, salah satu Calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada
DKI 2017 adalah Tri Rismaharini. Seperti yang kita tahu bahwa Tri Rismaharini adalah Wali
Kota Surabaya yang menjabat sejak 17 Februari 2016. Sebelumnya,
ia pernah menjabat sebagai wali kota Surabaya pada 28 September 2010 hingga 28
September 2015. Risma adalah wanita pertama yang terpilih sebagai Wali
Kota Surabaya sepanjang sejarah. Risma juga tercatat sebagai wanita
pertama yang dipilih langsung menjadi wali kota melalui pemilihan kepala daerah
sepanjang sejarah demokrasi Indonesia di era reformasi dan merupakan
kepala daerah perempuan pertama di Indonesia yang berulang kali masuk dalam
daftar pemimpin terbaik dunia.
Pada Pilkada DKI 2017 Tri
Rismaharini disebut-sebut akan dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta oleh
Partai yang mengusungnya yaitu PDIP. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP) Cabang Surabaya yakin jika Wali Kota Tri Rismaharini bakal bertarung
dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta. Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) menyatakan telah mempersiapkan kader partainya untuk
bertarung dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017. Mencermati
pernyataan tersebut, ada kemungkinan partai berlambang banteng moncong putih
ini akan mengusung salah satu kader terbaiknya yang sudah terbukti dalam
memimpin daerah, yaitu Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.
Menurut Direktur Indonesia Public
Policy Institute, Agung Suprio, Tri Rismaharini memiliki modal yang sangat
cukup dan bagus untuk maju dalam pemilihan orang nomor satu di DKI Jakarta.
Agung mengatakan, sosok Risma sudah terbukti sebagai kepala daerah yang
berhasil membawa daerah yang dipimpinnya yaitu Kota Surabaya, lebih maju dari
sebelumnya. Selain itu, sosok Risma yang santun dan religius bisa menjadi modal
lain untuk menjaring suara masyarakat. Jika PDIP mencalonkan Risma, maka itu
pilihan yang tepat karena figur Risma mudah dikapitalisasi untuk menyedot suara
warga Jakarta dan saya yakin warga Jakarta merindukan sosok cagub DKI seperti
Risma. Menurut Agung, dengan kriteria yang cukup untuk menjaring suara, kans
Risma sangat besar untuk memenangkan pesta demokrasi di Ibu Kota tersebut. “Ya,
potensi Risma menang sangat besar,” ujar dia.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal
(Sekjen) PDIP, Hasto Kristanto, usai menghadiri penutupan Rapat Kerja Daerah
PDIP Provinsi Bali mengatakan, PDIP telah mempersiapkan calon yang akan
dipertarungkan guna merebut kursi Jakarta Satu. Pihaknya menyatakan, PDIP telah
memiliki konsep dan prosedur dalam menentukan calon yang akan diusung dalam
pilkada nanti.
Salah satu kriteria yang telah
ditetapkan, menurut Hasto, yaitu calon tersebut telah memiliki pengalaman dalam
memimpin. Meski begitu, PDIP menampik jika dukungan akan ditujukan kepada
petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Hasto menambahkan, PDIP juga tetap
menghormati keputusan Ahok yang memilih untuk bertarung dalam pesta demokrasi
tersebut melalui jalur perseorangan atau independen.
Wali Kota Surabaya Tri
Rismaharini dianggap saingan berat dari Gubernur DKI Jakarta Basuki
Tjahaja Purnama jika keduanya maju pada Pilkada DKI 2017. Keduanya
memiliki peluang besar untuk maju dalam pilkada nanti. Dari survei yang
dilakukan Cyrus Network (CN), Ahok, sapaan Basuki, mendapatkan 42,8 persen
pemilih, sedangkan Risma mendapatkan 37,2 persen. Sisanya, 14,3 persen
ragu-ragu dan 5,7 persen tidak menjawab. Survei itu memperlihatkan hasil
antara Ahok dan Risma tidak terpaut jauh. Keduanya bersaing secara ketat jika
maju pada Pilkada DKI 2017 nanti. Kendati demikian, Ahok dan Risma punya ciri
kerja yang berbeda. Ahok lebih menekankan pada pembenahan birokrasi.
"Kalau Risma, lebih berpengalaman menata kota besar," kata pengamat
politik, Phillips J Vermonte, di acara diskusi dan rilis survei Cyrus Network.
Kendati demikian, Ahok dan Risma
memiliki persamaan pandangan. Salah satunya ialah mengenai keberanian
menghadapi masalah pelik. "Risma cirinya facing problem. Dia
sama seperti Ahok di Jakarta," kata pengamat politik Muradi. Survei
tersebut diselenggarakan pada 23 April-27 April 2015. Metode yang
dilakukan adalah multistage random sampling. Responden tersebar secara
proporsional di seluruh wilayah kelurahan DKI Jakarta dengan umur minimal 17
tahun. Responden yang terpilih diwawancarai lewat tatap muka. Jumlah
responden sebanyak 1.000 orang dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin
of error kurang lebih 3,1 persen.
Sementara itu Dewan Pimpinan
Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kota Surabaya mengaku pasrah jika
Wali Kota Tri Rismaharini dipilih menjadi calon Gubernur DKI Jakarta untuk
Pemilihan Kepala Daerah 2017. “Sebenarnya kami keberatan kalau Bu Risma
harus keluar dari Surabaya, tapi kalau partai sudah menghendaki maka kami harus
melaksanakannya,” kata Wakil Bendahara DPC PDIP Surabaya Agatha Retnosari
kepada wartawan di Surabaya. Menurut dia, Tri Rismaharini merupakan salah
seorang wali kota yang dicintai rakyatnya dan sudah membuktikan kualitasnya
sebagai pemimpin. "Apalagi Bu Risma baru dilantik oleh Gubernur Jatim pada
Februari lalu," ucap anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim itu. Pihaknya juga
belum bisa memastikan apakah nama Risma yang merupakan Wali Kota Surabaya dua
periode tersebut masuk dalam penjaringan di DPP sebagai calon Gubernur DKI
periode 2017-2022. "Kalau itu urusan dan mekanismenya ada di pusat. DPC
hanya menerima keputusan untuk selanjutnya mengamankan serta melaksanakan
perintah partai," katanya.
Tidak hanya nama Risma yang
disebut-sebut sebagai calon orang nomor satu di Ibu Kota usungan PDIP, nama
Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat juga menjadi yang
diperhitungkan. "Sebenarnya kader PDIP yang berkualitas itu banyak dan
sangat layak menjadi pemimpin. Tapi sekali lagi, ini semua urusan DPP yang
menyeleksi hingga menentukan," katanya. Wacana Tri Rismaharini sebagai
calon Gubernur DKI semakin mencuat ke publik seiring intensitasnya pertemuan
dengan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Sekretaris Jenderal DPP PDIP
Hasto Kristyanto sebelumnya menyatakan bahwa pencalonan Tri Rismaharini sebagai
calon Gubernur DKI tergantung dari warga Jakarta. Namun di sisi lain, kata dia,
PDIP juga memahami tugas Risma sebagai orang nomor satu di Pemkot Surabaya yang
merupakan hasil pilkada serentak 9 Desember 2015.
Sekretaris Jenderal Dewan
Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristyanto
menyatakan pencalonan Tri Rismaharini sebagai calon Gubernur DKI tergantung
dari warga Jakarta. "Karena masyarakatlah yang memiliki kedaulatan,
apakah menghendaki Bu Risma sebagai pemimpin di DKI," ujarnya ditemui
wartawan usai menjadi pembicara bedah buku berjudul "Merajut Kemelut;
Risma, PDI Perjuangan dan Pilkada Surabaya" di Universitas Airlangga
Surabaya.
Wacana Tri Rismaharini sebagai
calon Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 semakin mencuat ke publik seiring
intensitasnya pertemuan dengan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.
Risma disubut-sebut figur yang mampu mengalahkan Ahok di Pilgub DKI 2017. Pada
Pilkada DKI 2017, lanjut dia, PDIP sudah memiliki mekanisme dan mendorong
Jakarta sebagai Ibu Kota Negara harus dipimpin orang yang memiliki rekam jejak
menjalankan pemerintahan yang baik. "Calon pemimpin dari PDIP
nantinya juga harus tidak mudah dilobi oleh kekuatan modal, memiliki keberanian
dan gagasan untuk memahami persoalan struktural di Jakarta," katanya. Sampai
saat ini, DPP masih menjaring dan berproses dari bawah hingga ke pusat untuk
nantinya diambil keputusan politik oleh ketua umum. "Bahkan, sekarang
komunikasi politik secara intens dengan kepala daerah terus dilakukan sehingga
akan diketahui siapa yang mampu memimpin Ibu Kota," katanya.
Sementara itu, kendati Pilkada
DKI dinilai sangat penting sehingga memunculkan berbagai dinamika, ia berharap
tak mengganggu kinerja pemerintahan provinsi dan Gubernur Ahok beserta wakilnya
Djarot Saiful Hidayat agar fokus menjalankan roda pemerintahan sampai masa
akhir jabatan.Tidak itu saja, PDIP juga mengaku tetap fokus terhadap persiapan
101 pilkada serentak yang akan berlangsung selama 2017 agar terwujud kepala
daerah yang benar-benar peduli dan diinginkan rakyatnya.
Untuk itu, Risma meminta
masyarakat mendukung program-program yang telah ditetapkan Pemerintah Kota
Surabaya yang tujuannnya untuk menyejahterakan warga.
"Tidak mungkin saya
menjerumuskan wargaku sendiri. Kalau saya ingin hanya terkenal karena jabatan,
saya sudah tinggal Surabaya ini," kata Risma saat memberikan sambutan di pembukaan
Even #BulakFest2016 di Sentra Ikan Bulak, Surabaya.
"Saya ini di tengah-tengah,
di sisi lain ingin menyejahterakan warga di sini. Sekali lagi saya ini nolak
(Pilgub DKI Jakarta) susah-susah, saya berangkat ke Jakarta susah saya. Kalau
warga tidak bisa diajak maju maka saya yang sedih. Sementara saya ingin
memajukan njenengan, tapi warga tidak gelem. Saya ingin menyejahterakan
Surabaya, saya ingin buktikan saya bisa," katanya.Bahkan saat ke Jakarta
kemarin untuk menghadiri Munas Surabaya Community, Risma mengaku
sembunyi-sembunyi agar tidak kepergok media.
"Sampai kemarin pun saya
sudah ndelik-ndelik (sembunyi-sembunyi), ndilalah di tempat itu
ada Pak Djarot (Wagub Djarot Syaiful Hidayat) datang. Wartawan semuanya tahu
dan ini pasti beritanya beda. Padahal saya tidak ada niat apa-apa, diuber-uber,
berubahlah suasananya," kata penerima Bung Hatta Anti Corruption Award
2015 ini. Sekali lagi, Risma menegaskan tidak mengejar jabatan atau ingin
menjadi terkenal. "Saya elek-elek begini ya surveinya saya paling tinggi.
Saat ini saya di tengah-tengah, saya susah menolak tapi juga warga ada yang
menolak meramaikan Sentra Ikan Bulak, iso matek nang (bisa mati di)
tengah aku," kata sarjana arsitektur ITS ini.
Namun demikian, dengan banyaknya
pemberitaan bahwa Tri Rismaharani akan maju dalam Pilkada DKI 2017, Wali Kota
Tri Rismaharini masih berat meninggalkan Kota Surabaya ketika mendapat tawaran
menjadi menteri atau maju ke Pilgub DKI Jakarta.
Namun, kata Risma, Pemkot
Surabaya saat ini mengubah pola perilaku masyarakat di Pesisir Bulak agar
menjadi lebih sejahtera. Risma ingin Sentra Ikan Bulak yang dibangunnya ramai
dan dikunjungi pembeli sehingga perekonomian warga ikut naik. "Saya
tidak akan mencelakakan wargaku. Wong kemarin saya ada tawaran menteri dan gubernur
DKI, tapi saya tetap bertahan, tapi bukan itu yang saya cari. Maka marilah
sama-sama membuat Sentra Ikan Bulak ini ramai. Ora ono lho wali kota
ngurusin pasar kayak gini," kata Risma dengan suara tinggi. Namun
dengan kenyataan masih adanya sebagian warga Kejawan, Kecamatan Bulak, yang
menolak berjualan di Sentra Ikan Bulak membuatnya kecewa.

0 Komentar