Ingat Tugas Kita

Ada masanya manusia memandang langit terlalu lama, berharap keajaiban turun seperti hujan deras, padahal ia lupa membuka payung, apalagi menyiapkan ladang.

Manusia, makhluk yang diberi kehendak dan kaki, seringkali justru lebih sibuk berdoa agar nasibnya berubah tanpa sedikit pun menggerakkan jari. Ia melafalkan harapan, tapi enggan menyingsingkan lengan baju. Ia meminta jalan, tapi menolak melangkah.

Padahal, hidup adalah jalinan halus antara harap dan ikhtiar. Doa adalah bahan bakar, tapi ikhtiar adalah kemudi.

Tugas kita bukan menciptakan hasil, tapi menyulam upaya. Hasil adalah milik langit, namun usaha adalah kewajiban bumi. Kita hidup di antara keduanya yakni berdoa sambil bekerja, berserah sambil bertindak, berharap sambil berpeluh.

Namun seringkali, manusia menuntut Tuhan seolah Ia utang sesuatu, padahal ia sendiri lupa menunaikan tugasnya. Lupa bahwa setiap nafkah harus dicari, bahwa setiap ilmu harus dipelajari, bahwa setiap luka butuh usaha untuk sembuh bukan hanya harapan untuk lenyap.

Ikhtiar bukan hanya kerja jasmani, tapi juga keberanian hati. Untuk terus berdiri meski jatuh berkali-kali. Untuk mencoba lagi meski semesta terasa sunyi. Untuk menanam meski hujan belum tentu datang.

Karena dalam ikhtiar, ada kejujuran kita sebagai hamba. Mengakui bahwa kita bukan penguasa takdir, tapi penjaga niat. Bahwa kita tidak bisa menggenggam hasil, tapi kita bisa mencintai proses.

Maka jangan hanya berharap hidup membaik. Bangkitlah. Bergeraklah. Jemputlah kebaikan itu dengan kedua tanganmu. Jika Tuhan menyukai hambanya yang bersyukur, barangkali Ia lebih mencintai mereka yang tak lelah berikhtiar meski dunia seolah tak berpihak.

Dan bila suatu hari kau merasa lelah, duduklah sejenak. Tapi jangan lupa berdiri lagi. Sebab kelupaan terbesar manusia bukan pada apa yang ia miliki, tapi pada apa yang seharusnya ia lakukan, yakni berikhtiar.

Posting Komentar

0 Komentar