Gelas Terbalik





Dear myblog………..

Hari ini dipagi buta memberikan bisikan lirih yang aneh, menari-nari riang dalam ruang bawah sadar. Keriuhannya terlalu kuat untuk diabaikan atau sekedar untuk tak diindahkan, semacam kelekatan yang memaksa. Keenggananku untuk membuka selimut yang menghangatkan atau bangkit dari tempat empuk yang melelapkan, harus segera diakhiri jika tak ingin dihantui bisikan tersebut.

Dalam sadar yang tarlalu lemah, kuputskan untuk duduk dipinggir kasur membiarkan daya hayal dan pikiran bergerak bebas mengeksplorasi atau bahkan menilai seluruh bayangan yang tersaji dalam mimpi semalam. Namun,…yang didapatkan hanya kesimpulan yang merisaukan.  

Layaknya sebuah perahu yang tak bertuan, akhir-akhir ini jiwaku memang sedang gundah, atau risau semacam ketakutan yang tak sesuai takaran. Kadang sekedar untuk membalas antrian pesan medsos, atau segala rupa komunikasi virtual, butuh perjuangan yang berat nan menguras pikiran. Hei, ..ada apa dengan semua ini? Apa yang telah terjadi? Atau kenapa kehidupanku menjadi seperti ini? Apa yang harus kulakukan.

Pelan dan penuh sedikit pembrontakan, kuakhiri perseteruan imajinasi. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi, beberapa percikan air menyentuhku dengan sabar dan halus membuat remang-remang mata kantukku mulai meluluh. Sadar pagi tak lagi benar-benar pagi, kesenyapan malam yang telah memberi kemanjaan dan rayuan untuk beradu dengan keindahan mimpi telah berakhir. Akan tetapi pikiranku masih terlalu kuat untuk kuajak berhenti, gerak aktifnya bak meteor yang daya dorongnya tak lagi mampu ditahan oleh atmosfer.

Bukan menyerah, mungkin tepatnya menerima sesaat segala macam kegelisahan yang menuntut untuk segera dituntaskan. Benar saja, dengan sedikit kesabaran dan dibingkai oleh keheningan fajar subuh, kutemukan ketegasan atas rangkaian pesan samar yang telah tersaji dalam mimpi semalam. Ya semuanya tentang belahan jiwa yang konon disebut pasangan hidup. Sulit saat ini bagiku membedakan antara pasangan hidup, atau pasangan birahi yang hanya sebagai pemuas imajinasi liar yang dibungkus dalam istilah “kebutuhan hidup”.

Jika memang benar kita mencari pasangan, arogansi yang opportunis tentang fisik, atau kebiasaan yang dianggap tidak berkelas, atau mungkin sajiannya yang tak mirip pujangga misterius, mestinya disimpan kedasar jurang yang dalam dan gelap. Tapi nyatanya kita sendirilah yang mengizinkan diri pada  arogansi opportunis yang mengendalikan seluruh jiwa cerdas kita. Jangan heran jika akhirnya calon pasangan dari orang baik menjadi lelah dan tak lagi berminat untuk meluluhkan kegelapan kita.  Nafsu liar birahi telah menutup mata dari jiwa-jiwa yang tak mampu mensyukuri atas kebaikan dan kesempatan mahluk yang disajikan oleh TuhanNYA.

“Kesendirian bukanlah jawaban
Untuk membunuh semua kejenuhan
Karena manusia telah ditakdirkan
Hidup dalam pasangan yang menentramkan

Tapi sejenak tak lagi kuteruskan
Saat pikiran menuntut semua jawaban
Siapakan yang bisa kusebut pasangan?
Kala layar dan drama kehidupan telah menyajikan
Riuh gemuruh konflik penuh kemirisan
Diantara pasangan yang berakhir dengan kebencian

Benarkah cinta menjadi satu-satunya jaminan,
Yang bisa mengubah cerita menjadi kebahagiaan,
Dimana katanya bisa memberi kekuatan yang tak terkirakan?
Entah lah, yang pasti mataku tak mungkin membalikkan
Kenyataan dua insan yang menyatu karena cinta yang melekatkan
Telah menyajikan kepiluan yang tak terelakkan
Dua nyawa melayang penuh kesia-siaan
Hanya untuk sekedar melampiaskan
Kemarahan yang tak lagi sesuai takaran

Cinta dan benci bagiku hanyalah samaran
Batasnya hanya tersekat oleh pikiran yang penuh kerapuhan
Hari ini katnya cinta telah memberi keyakinan
Untuk mengarungi lautan dan gelombang kehidupan
Tapi esok berubah menjadi benci yang tak termaafkan
Semuanya berakhir dengan mudah, semudah tuk katakan
Bahwa kita tak lagi sejalan

Lantas apa gerangan cinta yang menguatkan?
Sulit untuk kutemukan jawaban
Jika hati diliputi kecemasan yang berlebihan
Apalagi jika birahi yang mengendalikan
Atas beragam pilihan-pilihan yang disajikan.
Maaf beribu maaf harus kukatakan
Kita hanyalah manusia yang penuh kerapuhan
Jalan cinta dan benci sering naik turun bak tarian kesetanan

Wahai kawan, kembalilah pada jalan Tuhan yang mencerahkan
Berpasangan adalah suaratan takdir yang digariskan
Melaksanakannya adalah sunnah yang memulyakan
Cukuplah keridhoan Tuhan menjadi tujuan
Bukan kisah-kisah picisan yang menjadi panduan
Apalagi berfikir jika seksi adalah mereka yang misterius dan penuh kenakalan

Cinta yang berakar pada Tuhan
Menyajikan cerita yang menentramkan
Cinta yang berakar pada ketaatan
Menyajikan kekuatan melebihi dugaan

Sejatinya kebahagiaan bukan terukur pada kekayaan
Ataupun kesempurnaan yang melenakan perasaan
Melainkan karena keyakinan yang menguatkan
Bahwa cinta pada pasangan harus terikat pada keridhoan Tuhan
Tuk menjadikan setiap jengkal kehidupan
Adalah ibadah yang penuh kedamaian dan keberkahan

Keimanannya telah menjadi fondasi yang mengokohkan
Tuk menghadapi segala rintangan dan cobaan
Jangankan ombak, badai besarpun akan ditaklukan
Rumah tangganya jauh dari keretakan
Terhindar nasib yang menenggelamkan
Seperti awa maru yang tak pernah kembali dari pertualangan

Jangan pernah sia-siakan kesempatan
Apalagi jika jiwa telah memutuskan dengan keangkuhan
Tuk menjadi tua dalam kesendirian dan ketidakberdayaan
Manakala pasangan cinta impian
Tak pernah terwujud dalam kenyataan

Jangan lagi pernah mengadukan
Pada Tuhan yang telah memberikan jalan
Jika kesombongan dan keangkuhan masih dominan

jangan lagi pernah menceritkan
Pada Tuhan yang telah memberi kesempatan
Jika jiwamu telah memberi pengingkaran
Yang menutup segala kemungkinan
Tuk meneruskan perintah yang memulyakan
Melahirkan banyak keturunan yang akan memajukan
Setiap jengkal bumi yang telah dihadiahkan

Jika iman yang menjadi panduan
Sejatinya pasangan itu telah ada dihadapan…..

Sekarang kemanakah hatimu akan ditambatkan
Semuanya terserah pada pilihan cerdasmu sebagai mahluk Tuhan
Apakah GELAS TERBALIK yang kau sajikan?????????



By Syambadaba








Posting Komentar

0 Komentar