Dunia Penuh Misteri






Sejenak saya berhenti, mengamati apa yang terjadi. Daun-daun mulai tersapu lirih, mengikuti irama angin. Sayup-sayup suara gaduh membaur dengan heningnya alam pikiran. Beradu dengan bimbang, sedih, bingung dan tak beraturan. Mungkin Tuhan sedang bertutur dalam kesunyian jiwa, menyatu dalam imajinasi yang komplek untuk menemukan makna yang tertutup dalam keangkuhan. 

Bak pilosop abad pertengahan, kadang kebenaran selalu tersimpan rapih dalam kompleksitas peristiwa. Hitam, putih, biru atau warna lainnya adalah jawaban yang selalu siap menghampiri manakala sang adam mulai luluh dan bersahabat dengan beragam keriuhan. Masalah bukan untuk dicari tapi masalah bak air hujan yang turun kebumi mengikuti sirkulasi awan dan angin. Titik air akan jatuh menyusuri tiap jengkal kelapangan sang permukaan. Bukan untuk melawan, bukan pula untuk meratapi, tapi mensyukuri setiap tetesan dengan memberi ruang untuk membasahi tanah. Tapi, tapi….jangan Tanya, jika ruang itu tertutup atau bahkan mencoba merekayasa, air akan berubah menjadi bah yang meruntuhkan irama kesombongan sang adam.

Sejatinya kita diciptakan untuk memberi ruang bagi segala peristiwa, tuk memahami arti pesanNYA. Saat itu terjadi, keajaiban selalu mengiringi jiwa-jiwa yang lapang dan pemaaf. Friksi diantara dua keangkuhan hanya akan menciptakan bah penyesalan. Bukan untuk dilawan, bukan pula untuk disesali. Sekali dalam kedewasaan, selalu menyimpan misteri indah untuk dijalani.

Yah,…Dunia memang penuh misteri. Kadang kawan berubah menjadi musuh nan angkuh, kadang musuh menjadi teman nan bersahabat. Hanya pelajaran untuk memperbaiki yang layak kita ambil. Karena hidup selalu tentang jiwa-jiwa yang murni yang mencintai kedamaian. Tak selamanya nafas ini terus berhembus tenang, mengikuti senyapnya rongga kehidupan. Tak selamanya raga ini selalu tegap menapaki titian jalan yang dikehendaki.

Sadar waktu sangat terbatas, bahkan berjalan terlalu cepat. Sudah seharusnya kita bisa mengambil dan memahami pesanNYA. Semestinya tak ada lagi kesombongan yang menghiasi persepsi kemarahan.

Tak perlu lagi menjadi jiwa-jiwa palsu, tuk menemukan kebahagiaan. Tak perlu lagi menjadi awan mendung, jika hanya ingin berkawan dengan hujan. Tak perlu lagi menjadi langit cerah, jika hanya ingin menjadi bintang yang terus berkerlip. Kita hanya perlu menjadi jiwa-jiwa yang tulus untuk menjadi diri yang seharusnya.
Biarkan keangkuhan berlalu pergi tanpa meninggalkan jejak-jejak yang menyesakkan hati. Biarkan kesombongan berbaur dengan hening keihkalsan tanpa lagi meninggalkan keriuhan yang mengotori indahnya senyuman tulus persahabatan.

Bila badai kemarahan itu tiba, biarkanlah berlalu tanpa memberi ruang dendam  yang menyatu dan  mengalir dalam nadi kedewasaan.

Biarkan kita menjadi bagian misteri hidup, tanpa gundah untuk menatap jalan cerita esok. Karena kita tidak ditakdirkan untuk merusak alurnya.

Selamat menjadi dewasa, selamat menjadi hati yang tulus nan lapang  untuk berjalan bersama diatas terjalnya jalan cerita hidup.

By Syambadaba…….

Posting Komentar

0 Komentar