Dok.Pribadi 2016
Tarif hotelnya juga terbilang terjangkau, sekitar Rp.320.000 s.d Rp. 400.000 . Bahkan jika beruntung, kita bisa dapat tarif yang murah, sekitar Rp. 280.000. Keuntungan menginap di hotel ini selain dekat rumah makan dan tempat perbelanjaan, hotel ini menawarkan view yang lumayan amazinglah, apalagi klo bukan pemandangan pantai beserta panorama nelayan yang sedang mencari ikan. Suasana yang paling saya sukai adalah pemandangan pantai disore hari saat matahari akan kembali ketempat peraduannya. Sambil menikmati kopi has manado, saya tiada bosan-bosannya memandangi sunset bak memandangi wanita yang selalu saya bayangkan.
Untuk transportasinya juga terbilang mudah dan banyak macamnya, dengan beragam jenis kenyamanan dan pelayanan yang ditawarkan, kita tinggal memilih dan menyesuaikan budget kantong. dari mulai rental, taksi bluebird, dan angkutan kota dengan musik superbassnya. dijamin akan banyak sensasi dan pengalaman yang akan kita dapatkan.
Akan tetapi kenyamanan tersebut sedikit terganggu dengan kemacetan yang sering terjadi, terutama jika jam pulang kantor tiba. Perjalanan yang biasa ditempuh hanya 30 menit, bisa memakan waktu lebih dari 3 jam, hampir mirip-mirip dikit Jakarta, cuma bedanya kemacetan di Manado terbilang fluktuatiflah.
Sebagai kota yang sedang berbenah dan meningkatkan kualitasnya, manado sedang giat-giatnya membangun. tak terkecuali pembangunan jalan yang akan mempermudah tamu menuju titi-titik akses. oleh karenanya, jangan heran jika hari ini kita berkunjung ke Manado, akan nampak pemandangan mega proyek jalan yang sedang dirampungkan. Pembangunan jalan yang terkategori mega proyek adalah pembangunan jalan layang dan tol yang menghubungkan pelabuhan, bandara dan kota Bitung.
Hemmmm...cukup kaget juga seh, kota kecil seperti Manado yang berada diujung Sulewesi, atau tepatnya berada dalam cakupan administrasi Provinsi Sulewesi Utara, memiliki tingkat kesibukan yang lumayan tinggi. Tapi jika ditelisik lebih dalam, Manado emang dikenal sebagai kota pelabuhan. Bahkan tidak jauh dari Mando (skitar 3jam), ada kota Bitung yang juga memiliki pelabuhan yang cukup besar. Kapal-kapal yang bersandarnya pun tidak hanya dari lokal, tapi ada juga dari kapal nelayan dan kapal barang dari negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, Philipina, Jepang, dan lainnya.
Jadi akhirny ga heran juga seh, jika disepanjang jalan menuju Bitung selain kita disuguhkan oleh banyaknya mobil-mobil besar, kita juga disuguhkan banyaknya pabrik pengolahan ikan-ikan kaleng untuk ekspor. Ikan yang dimaksud adalah ikan tuna yang oleh orang setempat dijadikan sebagai oleh-oleh khas Bitung.
Nah, karena spotarea tugas saya ada di Bitung, saya juga cukup mengenal karakteristik kota ini. Sebagai pendatang awalnya saya merasa heran, kenapa penginapan Bitung begitu murah dan acap kali ada penawaran lain yang membuat saya terganggu. Hemmm..wajar saja ternyata usut punya usut penginapan Bitung rata-rata dikenal sebagai hotel transit (walau tidak semuanya). Penggunanya konon didominasi oleh para pelaut yang kebetulan singgah dan bermalam di kota ini. Ya iyalah, pelaut gituh loh, lama tak merasakan belaian kaum hawa, akhirnya bak gayung bersambut dibalik sisi lain bitung banyak sekali praktek kupu-kupu malam. Entah sudah berapa lama, tapi praktek tersebut telah menjadi gosip umum, mau yang gelap-gelapan atau yang sekalian dibantu oleh pelayan penginapan, seolah seperti hal biasa.
Aaaahh...Ngeriiiiiii banget dengernya. Akhirnya demi menjaga iman diri, martabat dan kehormatan sebagai hamba Tuhan yang berusaha taat, akhirnya saya lebih memilih penginapan di Manado yang sudah terjamin dan terhindar dari godaan-godaan tersebut.
Tapi diantara semua itu, ada pemandangan yang paling membuat saya sedikit kagum adalah setiap kali saya mau makan, banyak spanduk warung makan besar yang menempelkan label halal. Entah karena pelanggan/tamu yang makan diwarung tersebut adalah muslim, atau memang banyak pendatang/tamu yang kebetulan muslim, atau bisa jadi penjualnya muslim. entaaaaaaaahlah, saya sendiri tidak terlalu bersemangat untuk menanyakannya. Anggap saja ini, penawaran sekaligus pelayanan spesial dari Manado.
Ada beberpa kesimpulan yang coba saya susun dari kasus label halal. Pertama, Manado memang dikenal penduduknya mayoritas non muslim, tapi Mando berarti cukup toleran untuk tamu-tamu yang muslim. Kedua, kerukunan Manado bisa dikatakan sangat baik, karena selain memberi kenyamanan pada penduduk ataupun pendatang yang muslim, label halal juga menjadi simbol penerimaan keyakinan Mayoritas pada Minoritas.....
Heemmmm, well akhirnya demikian saja cerita kecil petualangan saya...sebelum saya tutup, sebenarnya ada banyak destinasi yang menarik untuk dinikmati di Manado. Ada Bunaken yang menjadi surga untuk menyelam dan memancing, ada Tomohon yang menawarkan pemandangan sejuk seperti lembangnya Bandung, dan juga masih ada tempat-tempat unik yang belum saya dengar lainnya...
So,...masih meragukan klo Indonesia itu Wonderful.....???????
|
0 Komentar