Silih berganti, tak terasa sudah akhir bulan maret saja. Riuh gaduh suara bising, seolah terasa senyap hening dan datar. Entah karena saya mulai tak menghirukan suasana itu atau memang saya mulai kehilangan segala yang berarti. Banyak sajak-sajak hambar yang terdengar, atau banyak suara-suara sumbang yang bertebaran. Tapi tak ada satupun yang menarik untuk disimak, semua berlalu tanpa bekas. Roda kehidupan berjalan seperti biasanya, mengayuh mengikuti putaran sang “the men”. Menikmati atau sebuah keterpaksaan, entahlah semunya menjadi satu mengaburkan semua gairah impian yang pernah terukir dalam tembok imajinasi kebahagiaan.
Mungkin segan atau bisa juga bimbang dengan baragam imajinasi buram yang mulai kokoh untuk mengambil alih seluruh ruang kretif saya. Kisah-kisah pilu mulai menghantui dan bahkan nampak seperti nyata, dari mulai scene penderitaan, ketidakberdayaan, dan kehampaan yang beberapa tahun silam pernah terputar utuh dalam drama kehidupan saya.
Takut itu berulang lagi dalam layar perjalanan saya, sepintas dan instan saya mulai terjebak dalam perahu kenyamanan mengayuh dalam ketenangan air yang tak jelas arahnya. akhirnya bak burung yang mulai kehilangan sayapnya, langkahku mulai tertatih-tatih, berjalan diatas jalanan berkelok dan terjal, tanpa arah yang pasti. Sadar jika hari ini, impian-impian itu mulai luntur oleh sengatan panas dan kokohnya ujian. Sajak-sajak idealisme tentang masa depan mulai terkikis oleh kerasnya cerita rutinitas.
Lelah, bosan, penat adalah sedikit petikan kata yang mulai sering muncul dalam kalimat-kalimat datar yang membingkai drama keseharian.
“Mana mental bajamu kawan, mana, mana? Mana gelora mudamu kawan, mana,mana…? Seorang sahabat berseloroh tajam diujung telepon memberi kritik lirih….dengan diplomatis abu-abu, saya menjawab “Hidup adalah proses yang tak akan pernah berhenti dalam satu ruang kawan. Mungkin ini yang disebut fase kedewasaan yang tak beraturan”…
Tak terima dengan hipotesis yang saya utarakan, sang sahabat lalu menimpalinya dengan hipotesis ekstrim atau dikenal hipotesis kopi ala warkop “pajawan” (red: warung makan 24 jam di kampus dulu)
“Hai kawan….berhentilah untuk tenggelam. Kau ini sudah terlalu jauh berenang, saatnya kau menepi mencari daratan yang bersahabat dengan mimpimu, atau kau akan menyesal disisa waktumu kelak. Mulailah focus dengan kerangka mimpimu, jatidirimu, kembalilah pada bangunan komitmen yang pernah kau tulis dalam lembar langkahmu”…..
Sahutan diskusi dalam ruang virtual sejenak hening, terdengar lirih hembusan napas yang naik turun mengiringi diskusi yang penuh makna.
Nasehat atau mungkin lebih tepatnya “sirene” kritik, mulai membukakan selaput pesimisme yang sesaat telah menutup mata saya dari hiruk pikuknya realitas. Tanpa pembelaan, saya mulai membuat sebuah pengakuan, bahwa saya pernah ada dipersimpangan jalan. Keraguan dan kebimbangan mulai menjadi panduan yang membutakan. Padahal dahulu kala, saya sering diingatkan bahwa ragu dan bimbang saat memilih jalan, sama halnya tak pernah membuat keputusan apapun.
Kiranya boleh direstart, ada banyak software yang ingin saya recovery lagi. Saya ingin mempunyai self system yang sehat lagi seperti dulu. Self system yang mampu memberi panduan yang bijak, smart, sehat tentang jalan mana yang bisa menghantarkan saya dipelabuhan kebahagiaan. Tentang cinta yang tertambat, karir yang tidak flat, etos kerja yang tepat, sosial yang sehat dan relasi yang bermartabat.
Entah apa jadinya hidup ini, jika saya tak pernah menyadari deviasi keputusan yang saat ini saya jalani. Tak penting seberapa jauh saya salah melangkah, yang terpenting adalah secepat dan seberani apa tindakan saya dalam memperbaiki situasi yang mulai tak sejalan lagi dengan mimpi.
Entah apa jadinya, jika saya mulai menghadirkan atau malah menyuburkan pikiran dan mental kacangan dalam kehidupan saya????? Mungkin mimpi saya hanya mampu tumbuh dan bertahan tak lebih dari umurnya kacang atau harganya lebih rendah dari kacang…..
Takeover mylife now………
(By Syambadaba)

0 Komentar