“Buat Esok Jadi Mudah”





Disore yang cerah, saat semua orang mulai letih dengan dinamikanya. Saat sebagian yang lain mulai sibuk menutup semua equipment kerjanya dan saat sebagian yang lain lagi masih asyik melihat beberapa schedule untuk esok hari. Disudut ruangan yang disebut perpustakaan, saya mengajak rekan untuk bertukar beberapa pengalaman. Yah pengalaman yang menarik untuk dibahas dalam obrolan santai yang penuh arti.

Sebagai seorang rekan, saya memang selalu nyaman untuk bercerita banyak hal dengan temen yang satu ini. Dari mulai masalah kerjaan, keluarga, social, politik, riset sampai dengan masalah wanita. Dia bagaikan satu mahluk langka, yang mempunyai cara berfikir dan bahasa yang khas, terutama dalam mengilustrasikan sebuah ide atau masalah, sehinga menjadi lebih menarik untuk didengar dan dikaji.

Diskusi langsung saya buka dengan pertanyaan sederhana; Brow pernah ga seh terpikirkan, seandainya besok lembaga ini langsung memberi selembar kertas bernama “PHK” pada kita? Kira-kira sikap terbaik apa yang akan kita muncul pada lembaga ini? Terlepas ini karyawan kontrak atau swasta ya. Sebagaimana kita tahu, lembaga tempat dimana kita kerja ini, satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Sebelum temen saya bereaksi , pertanyaan segera saya lanjutkan;

” Mas brow, saya akan mempermudah jawabannya, tinggal pilih saja. Jawabannya: 1). Marah-marah, memaki-makai atasan/demo (tidak terima) berharap lembaga segera merubah kembali keputusannya, 2). Melakukan tindakan anarkis (bernada mengancam agar lembaga merubah keputusannya, 3). Mengadukan kelembaga yang berwenang dengan proses yang panjang. Atau 4). Menerima dengan lapang dada, dan bahkan mengucapkan banyak terimakasih pada lembaga ini….kira2 mas brow pilih yang mana? Atau simpelnya menurut mas brow, kebanyakan diantara kita akan memilih sikap yang mana?


Kemudian perlahan temen saya menjawab; “Ya kebanyakan kita pasti akan memilih yang pertama, marah-marah, memaki-maki, tidak terima”. Sejenak energinya akan tersedot untuk tindakan-tindakan “negative” walau bisa jadi persepsi kita adalah “positif” karena itu menyangkut “hak”. Berbeda jika sudah menyangkut “kewajiban” kita, akan ada banyak apologize yang terdengar simpatik. Ya itu lah Indonesia.

Setelah itu saya bertanya lagi; “kira-kira kenapa kebanyakan kita memilih pilihan yang pertama? Kenapa kita tidak memilih pilihan yang keempat?. Kemudian temen saya hanya menjawab dengan senyuman “bingung” dengan dahi yang berkrenyit.
“ Mas brow, mnurut pemikiran sederhana saya banyak diantara kita memilih respon yang pertama karena kita memilih loyal dan berdarah-darah dengan lembaganya, bukan pada apa yang kita kerjakan. Kita lebih memilih menghabiskan waktu untuk memuaskan lembaganya, ketimbang menghabiskan waktu untuk mengembangkan potensi kita dari apa yang sedang kita kerjakan. Kita tidak pernah memprkuat expert special kita dengan beragam portopolio yang sudah kita kerjakan. Semunya berjalan begitu saja. Padahal ada banyak kesempatan yang baik, dari apa yang sekarang kita kerjakan, diantaranya; expert kita semakin tajam, jaringan semakin nambah, kualitas komunikasi semakin baik, mental semakin terbentuk, memiliki etos kerja yang khas dll.

Dengan beragam dinamika masalah yang kita hadapi, akan muncul cara berfikir kreatif untuk menyelesaikannya. Finally cara berfikir tersebut menjadi sebuah kebiasaan yang membuat kita semakin menemukan cara-cara kreatif untuk mengembangkan diri kita yang membuat kita semakin memiliki daya jual yang tinggi.

Orang yang bekerja karena sadar dengan pekerjaannya, akan memiliki pola pikir yang sehat. Salah satunya adalah apakah pekerjaan yang sedang saya kerjakan diperusahaan ini akan membuat saya semakin berkembang ataukah tidak. Muncullah istilah perusahaan yang baik akan memiliki system yang baik yang akan mengembangkan potensi karyawannya, Bekerjala bersama system yang baik, bukan pada perusahaan yang berbasis pada “personalineal culture”

Saat kita memiliki budaya dan komitmen “be expert”, networking harus menjadi budaya berikutnya. Sehingga orang kenal profil kita. Setelah itu apapun kondisi perusahaan kita, mau baik atau buruk. Mental dan sikap kita sudah jauh lebih siap untuk berpindah ruang, jika toh kenyataannya perusahaan/lembaga kita sudah tidak bisa lagi menjadi kolam yang luas untuk media berenang. Bahkan jauh sebelum perusahaan/lembaga mem-PHK kita, sejatinya kita sudah bisa memutuskan sendiri apakah kita mau menetap atau pindah.

Ingat “ perusahaan/lembaga dengan system yang baik saja bisa memecat kita kapanpun, apalagi perusahaan/lembaga yang personalcentrisnya begitu kuat”.

Jadi jangan pernah habiskan hidup kita untuk loyal dengan lembaga/perusahaan, tp habiskanlah hidup kita untuk “be expert” dengan pekerjaan kita. Prinsip pengembangan diri dan kreatif harus menjadi budaya yang tak boleh dilupakan…





Posting Komentar

0 Komentar