Jangan "Kabur aja dulu"

Sritex kini tinggal kenangan, ribuan mata berurai deras menatap nasibnya yang tak lagi semanis dulu. Kata ”PHK” yang tak ingin mereka dengar, kini meluncur tanpa hambatan seolah tak lagi peduli dengan masa depannya.

Padahal negeri ini dikenal kaya nan subur dimana batangpun akan tumbuh memberi harapan makmur. Namun sekelompok manusia telah menghianati anugerah ini dengan prilaku ugal-ugalan untuk memperkaya diri.

Yah korupsi, seolah penyakit yang sulit diobati. Pelan tapi pasti telah menggerogoti semua lini kehidupan negeri. Tembok pertahanan yang bernama ekonomi kerakyatan bertumbangan seolah tak lagi memiliki daya yang sakti. Kini pertiwi merintih kesakitan karena tak lagi memiliki pejuang yang bernurani untuk bersungguh membangun negeri.

Ada yang berkata, "Kabur saja dulu." Seakan negeri ini terlalu pengap untuk dihirup, terlalu suram untuk ditinggali, terlalu lamban untuk dikejar. Seakan tanah tempat berpijak hanyalah hamparan yang bisa ditinggalkan, bukan akar yang memberi hidup.

Tapi, bukankah negeri ini bukan sekadar tempat? Ia adalah ibu yang pernah mendongengkan perjuangan, ayah yang berpeluh mengayuh nasib, dan rumah yang berdiri meski angin zaman mencoba menggoyahkannya.

Lalu, jika kita memilih kabur, siapa yang akan tinggal? Jika semua yang bernyali memilih melangkah ke luar batas, siapa yang akan menyalakan pelita di lorong-lorong negeri yang redup?

Negeri ini tidak butuh pelarian, tapi kehadiran. Tidak butuh keluhan, tapi usaha. Tidak butuh orang-orang yang menunggu segala sesuatunya sempurna sebelum mau berjuang. Karena sungguh, tanah ini tidak akan menjadi lebih hijau jika semua penjaganya memilih pergi.

Maka, mari berhenti berlari dari sunyi dan bising yang kita anggap menyesakkan. Mari menjadi riak di tengah gelombang, menjadi nyala di tengah redup. Sebab negeri ini bukan sekadar nama dalam paspor, ia adalah warisan yang menanti untuk kita genggam, kita bentuk, kita banggakan.

Jangan kabur. Mari tinggal. Mari berjuang.



Posting Komentar

0 Komentar