Kawan, maaf…
Saya masih ingat malam-malam kita saling menguatkan. Saat dunia terasa terlalu sempit untuk mimpi yang terlalu besar, kita duduk berdua membagi harap, menukar keluh, dan menyalakan semangat dari bara yang hampir padam. Kita pernah percaya, dunia bisa kita genggam asal kita saling menjaga.
Tapi waktu, seperti biasa, berjalan tanpa permisi.
Kini saya berdiri di persimpangan yang tak lagi ada namamu di ujungnya. Bukan karena membuangmu. Bukan karena saya lupa akan tawa yang pernah kau bawa ke hari-hariku. Tapi karena jalan yang kita tempuh mulai menunjukkan arah yang berbeda. Dan memaksakan tetap berjalan beriringan hanya akan membuat salah satu dari kita tersesat.
Kau ingin melaju cepat, menaklukkan dunia dengan logika dan angka. Sedang saya, masih percaya pada puisi dan luka-luka yang menyembuhkan. Kau ingin berkompetisi, saya ingin berkontribusi. Kau ingin langit kota, sedang saya masih jatuh cinta pada tanah-tanah sepi pedesaan yang menumbuhkan.
Bukan salahmu. Bukan salahku. Ini hanya soal pilihan, dan kita masing-masing berhak memilih jalannya sendiri.Kawan, maaf…Kalau nanti langkah saya tak lagi sejajar denganmu. Kalau saya tak lagi ada dalam barisan yang kau perjuangkan.
Tapi percayalah, di sudut jalan saya sendiri, saya tetap membawa namamu dalam doa bukan sebagai orang yang tertinggal, tapi sebagai bagian dari cerita awal yang membuat saya lebih berani melangkah.
Perpisahan ini bukan akhir, hanya jeda yang memberi ruang bagi kita untuk tumbuh dalam cara yang berbeda, dengan arah yang mungkin tak akan pernah lagi bertemu… tapi tetap saling hormat dari jauh.
Jadi, jika suatu hari kita bertemu lagi dengan versi terbaik dari diri kita masing-masing, saya berharap, tak ada sesal yang tinggal. Hanya senyum hangat dan anggukan pelan

0 Komentar