Kadang Kita Salah

Kesalahan sering kali datang diam-diam. Ia tidak mengetuk pintu, tidak pula memperkenalkan diri. Tiba-tiba saja ia hadir dalam ucapan yang kita sesali, dalam keputusan yang kita kira benar, dalam sikap yang ternyata melukai.

Dan ketika ia datang, kita menunduk. Malu. Marah. Kadang pada diri sendiri, kadang pada dunia yang tak memberi petunjuk mana jalan yang seharusnya kita pilih.

Tapi begini, kesalahan bukan akhir. Ia adalah guru paling jujur yang pernah kita temui. Kesalahan memaksa kita bercermin, menelusuri ulang jejak-jejak langkah yang pernah kita ambil. Ia membuat kita bertanya: "Apa yang sebenarnya aku cari? Siapa yang sebenarnya aku sakiti? Kenapa aku bisa sampai ke titik ini?"

Di sanalah kita mulai mengenali diri, bukan diri yang kita tampilkan ke dunia, tapi diri yang rapuh, yang haus penerimaan, yang kadang terlalu keras mengejar, terlalu cepat menilai, atau terlalu lambat mencintai diri sendiri.

Dan justru dari situ, pelan-pelan kita tumbuh. Kesalahan membuat kita lebih rendah hati. Ia mengingatkan bahwa kita bukan sosok yang sempurna, dan tak perlu menjadi satu. Ia mengajari kita untuk memahami orang lain, karena kita pernah berada di posisi yang sama melukai, dan terluka.

Kesalahan bukan musuh, selama kita tidak menyangkalnya. Ia adalah bagian dari perjalanan. Tanpa itu, kita hanya akan terus berjalan dalam bayang-bayang ego yang tak pernah belajar.

Jadi jangan terlalu keras pada diri sendiri. Maafkan apa yang pernah kamu lakukan, bahkan yang paling kamu sesali. Karena orang yang bisa memaafkan dirinya sendiri, adalah orang yang siap untuk tumbuh dengan cara yang paling benar "dari dalam".

Posting Komentar

0 Komentar