Oh Waktu, sang pengembara abadi, melangkah dengan irama tak tergoyahkan. Detik-detik jatuh dari langit seperti daun musim gugur yang keemasan, berputar, menari, lalu terbaring dalam kesunyian. Banyak yang percaya bahwa waktu adalah penyembuh segala luka, pelipur segala lara. Namun, tidak semua masalah tersapu oleh sapuan angin waktu.
Ada hati yang retak bukan karena ketidaksepahaman, tetapi karena kebisuan yang tak pernah terpecahkan. Sepasang kekasih yang duduk bersebelahan, memandang ke langit yang sama, namun tak lagi melihat bintang yang serupa. Waktu berlalu, namun jarak yang tak kasat mata justru kian melebar.
Ada dendam yang tertanam seperti akar pohon tua, menembus tanah hingga ke kedalaman gelap. Waktu melewati musim demi musim, namun dendam itu bertahan, tumbuh menjadi rimbun, menghimpit cahaya. Bukan waktu yang menumbuhkan maaf, tetapi keberanian untuk melepaskan.
Ada mimpi yang terkubur dalam, bukan karena takdir yang kejam, tetapi karena ketakutan yang menyelimuti. Tahun-tahun berjalan, namun sayap yang pernah patah tidak tumbuh kembali hanya dengan menunggu. Hanya keberanian untuk mencoba terbang lagi yang mengubah segalanya.
Waktu adalah saksi, bukan pelaku. Ia mengukir garis-garis halus pada wajah, tetapi tak selalu mampu menghaluskan tajamnya ingatan. Ia memudar cahaya senja, tetapi tak bisa memadamkan bara yang menyala di dalam dada.
Karena pada akhirnya, tidak semua masalah diselesaikan oleh waktu. Beberapa masalah menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar menit yang berlalu. Ia menanti kata yang tak terucap, pelukan yang tak terwujud, atau keberanian untuk beranjak dari kenangan yang mencekam.
Dan barangkali, yang kita butuhkan bukanlah waktu yang lebih panjang, tetapi hati yang lebih berani.
.......Hanya Pandangan yang tak sempat terungkap untuk diskusi kecil dengan seorang teman kerja dengan tema "Prahara bubur kacang hijau"....teman saya berpendapat bahwa biarkan waktu yang menjawabnya. Namun sayapun memiliki pandangannya sendiri seperti yang saya goreskan diatas.

0 Komentar