Saat Dunia “Tak” Ramah

”Jika ingin perubahan, buatlah momentum. Dan itu harus lahir dari upaya sungguh-sungguh bukan sepintas lalu. Namun jika hasilnya tak sesuai, berhenti menyalahkan. Bangkit dan rencanakan kembali. Ini tentang seberapa konsisten keyakinan kita walau dunia tak lagi mempercayainya”. Sem, Bandung 2007.


Tak semua perubahan datang membawa kabar baik. Ada perubahan yang seperti gempa menghancurkan pijakan yang selama ini terasa aman. Ada yang seperti hujan deras tak henti mengguyur keyakinan yang sedang retak. Dan di tengah semua itu, kau berdiri sendiri, menggenggam sisa-sisa keteguhan yang mulai lunglai.

Dunia tak selalu berpihak. Kadang ia membelokkan arah saat kita baru saja belajar berjalan. Kadang ia menjauhkan peluang tepat ketika kita sudah siap menerima. Rasanya tak adil, memang. Tapi hidup jarang sekali memberi peringatan sebelum mengubah segalanya.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Meyakinkan diri. Itu jawabannya. Bahkan ketika logika mulai meragukan. Bahkan saat kenyataan tak memberi alasan untuk percaya.Karena keyakinan, sejatinya, bukan soal kepastian tapi tentang memilih untuk tetap berjalan, meski kabut belum membuka jalan di depan. Ini tentang menyalakan lilin kecil di dalam dada, saat dunia luar menolak memberi cahaya.

Tak apa jika sesekali kau goyah. Tak apa jika ada hari di mana kau ingin menyerah. Tapi jangan biarkan hari-hari itu mencuri seluruh dirimu. Sebab di dalam dirimu, ada versi yang lebih kuat dari apa yang kau kira. Versi yang sedang menunggu dipanggil oleh badai bukan oleh kemudahan.

Percayalah, kau tidak sedang ditinggalkan. Kau sedang diarahkan. Walau sekarang tak terlihat ke mana.Perubahan tak berpihak? Mungkin. Tapi keyakinan membuat kita tetap punya arah, bahkan di tengah arus yang kacau. Ia bukan jaminan untuk menang, tapi ia adalah satu-satunya alasan kita bisa terus mencoba.

Dan seringkali, justru saat semuanya terasa berat dan sunyi, di situlah hati kita sedang dikeraskan, dibentuk. Agar jika perubahan itu tak kunjung datang juga, kita sudah tak lagi bergantung padanya untuk tetap bertahan. Walau pukulan yang terkadang datang bertubi-tubi terasa telah menghancurkan semua kekuatan yang tersisa, namun kita memilih berdiri kembali untuk menghadapinya dan mempertahankan setiap rondenya. Karena kita yakin jika kita mampu bertahan di ring dalam ronde tertentu, maka masih ada harapan untuk menaklukan dironde berikutnya.

Posting Komentar

0 Komentar