Hari itu, di Aula besar telah tersusun jajaran kursi dengan hiasan yang apa adanya, seolah mengesankan kegiatan ”yang penting ada”. Beberapa kali yang punya acara mengingatkan warga kantor untuk hadir sesuai waktu yang terjadwal, namun waktu hanyalah waktu kenyataannya komitmen tetap menjadi yang tersulit dipenuhi. Dari awal ketidakpastian selalu menjadi misteri yang sulit terjawab, wajah-wajah yang hadir mulai terlihat gelisah karena acara tak kunjung mulai. Tentu bukan pantia yang salah, karena mereka sudah mengerahkan tenaga dan pikirannya untuk mempersiapkannya.
Akhirny ketidakpastian itu berlalu, lantunan qori menjadi permulaan yang memberi rasa sejuk diantara wajah-wajah yangs sedari tadi gelisah. Dilanjut dengan rangkaian seremoni sambutan, ceramah agama yang mulai sulit disimak karena waktunya sudah tidak lagi bersahabat dan acara ditutup dengan saling berjabat tangan. Namun jabatan itu terasa tidak mengeratkan. ada ucapan "Mohon maaf lahir dan batin." tapi semuanya terdengar seperti naskah hafalan. Sunyi terasa di antara celah tawa yang terlalu keras. Seolah masing-masing sedang memerankan dirinya sendiri, bukan hadir sebagai manusia yang sungguh-sungguh ingin saling terhubung.
Tak ada peluk yang benar-benar erat. Tak ada maaf yang benar-benar dalam. Yang ada hanyalah rutinitas: absen, hadir, lalu kembali ke meja masing-masing seperti biasa. Hati tetap menyimpan jarak, dan gengsi tetap menghalangi percakapan yang seharusnya tulus.
Mengapa bisa sehambar ini? Mungkin karena selama ini kita terlalu kaku dalam menyusun batas. Terlalu sibuk bersaing, terlalu sering menahan kecewa, terlalu gengsi untuk mengakui bahwa kita saling butuh. Maka saat momen seperti ini datang yang semestinya jadi ruang pelepasan dan penyatuan, malah jutsru kita tak tahu harus berbuat apa, selain berpura-pura ramah.
Halal bi halal bukan soal hidangan yang disajikan atau kata-kata yang diucapkan. Ia tentang hati yang rela menanggalkan dendam dan egonya. Tapi jika hati tetap membeku, maka selezat apapun hidangan, seformal apapun sambutan, semuanya akan terasa… hambar.
Namun, selalu ada harapan. Mungkin bukan tahun ini, tapi suatu hari nanti. Ketika kita benar-benar membuka hati, bukan hanya membuka mulut. Ketika kita berani bicara jujur, bukan hanya basa-basi. Dan ketika salaman bukan lagi simbol, tapi sungguh-sungguh penghubung.
Sampai saat itu tiba, halal bi halal di kantor akan tetap jadi catatan absen tahunan bukan peristiwa yang mengubah hubungan, tapi hanya jeda sunyi di tengah hiruk-pikuk profesionalitas yang membosankan.

0 Komentar