Kesunyian Gerbong Malam

Kereta malam selalu memanggil dengan suara yang berbeda. Bukan hanya derak roda besi yang menggigit rel, tetapi juga sunyi yang melaju perlahan di dalam dada. Aku menaiki gerbong ini bukan untuk lari atau bersembunyi, tapi untuk berdamai dengan jiwa yang letih dan penuh luka agar mampu mensyukuri. Kadang, tak semua perjalanan butuh tujuan, namun untuk menyadarkan kita tentang yang berharga yang sudah kita miliki.

Lampu-lampu stasiun melesat seperti bintang yang gugur satu per satu. Wajah-wajah penumpang, sebagian tertidur, sebagian menggenggam mimpi yang entah sudah mati atau masih digendong dalam diam. Di pojok bangku, seorang ibu tua memeluk keranjang rotan. Entah isinya harapan, entah sisa-sisa hidup yang tak laku di kota.

Kupandangi jendela, namun yang kulihat bukan pantulan wajahku melainkan bayangan-bayangan yang kutinggalkan: janji yang tak ditepati, harapan yang tak pasti, tawa yang tak sempat kembali atau kekecewaan yang melukai. Kereta ini jadi ruang pengakuan, tempat dosa-dosa kecil mengaku tanpa diminta.

Ada yang bilang, malam membuat segalanya terlihat lebih jujur. Mungkin karena dalam gelap, tak ada lagi tempat sembunyi. Kita jadi kita, tanpa nama belakang, tanpa pekerjaan, tanpa siapa yang mencintai dan siapa yang membenci.

Saat kereta melambat dan stasiun berikutnya menyala di kejauhan, aku tahu: hidup bukan tentang tempat di mana kita berhenti. Tapi tentang gerbong-gerbong yang kita pilih untuk kita naiki, dan keberanian untuk tetap duduk saat semuanya terasa asing.

Selamat malam Jakarta, Selamat Beristirahat.

Posting Komentar

0 Komentar