Barlayar Dalam Gelap

Di sebuah kampung yang terjaga oleh gumam ombak dan bau asin laut, hidup mengalir perlahan seperti perahu kayu yang tak buru-buru pulang. Di sanalah aku duduk sore itu, menatap langit yang memerah, seolah langit sendiri tengah menyembuhkan luka yang tak bisa diceritakan.

Senja bukan cuma perkara waktu. Ia adalah rasa yang tumbuh diam-diam di dada. Setiap gores merah di cakrawala seperti puisi yang tak pernah selesai kutulis. Di bawahnya, anak-anak kecil berlari di antara batu-batu karang, tak sadar bahwa mereka sedang hidup dalam sajak yang kelak hanya bisa dikenang.

Di kampung ini, orang-orang tak banyak berkata-kata. Mereka bicara lewat gerak, lewat tatapan, lewat tangan yang sibuk menjala ikan, menjemur rumput laut, atau sekadar menyeduh kopi. Kata-kata tidak dibutuhkan jika hati sudah paham caranya bergetar.

Aku bertemu seorang lelaki tua di dermaga. Kulitnya terbakar matahari, namun matanya masih bening seperti laut pagi. Ia berkata, “Laut itu ibu, tapi juga ujian.” Lalu ia tertawa pelan, seakan tahu bahwa hidup memang kadang getir, tapi tetap harus dijalani.

Seperti berlayar dalam bahtera gelap, kesepian, kesunyian atau sangkaan negatif bak batu karang akan selalu tersaji dalam lautan kehidupan kita. Namun pujangga barat sering memberikan nasehat liar bahwa segelap dan sesunyi apapun hidup kita: akal sehat, jalan impian, dan terus melangkah adalah rumus yang tidak boleh diabaikan.

Posting Komentar

0 Komentar