Hidup, barangkali, tak lain dari roda besar yang terus berputar. Kadang berada di puncak, kadang terseret debu di dasar jalan. Kita semua menumpang di atasnya, dalam diam, dalam pasrah, atau kadang dengan genggaman keras kepala yang enggan melepas.
Pernahkah kau merasa segala yang kau punya mendadak jauh? Bahwa tangan yang tadinya menggenggam erat kini kosong, menggigil oleh angin kenyataan? Jangan takut, bukan kau seorang diri. Kita semua pernah berada di bawah, digilas oleh waktu, ditinggalkan oleh yang pernah bersumpah tak akan pergi.
Namun, roda tak pernah berhenti. Ia tak peduli siapa yang tertawa di atas, siapa yang menangis di bawah. Ia terus berputar, tanpa pamrih, tanpa dendam. Dan di situlah keadilan paling purba menemukan bentuknya.
Di puncak, jangan tinggi hati. Di dasar, jangan rendah diri. Karena takdir selalu menari bersama waktu, dan waktu... adalah pengemudi tak terlihat yang tahu kapan saatnya kau diangkat atau dijatuhkan. Ia mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan soal posisi, tapi cara kita tetap menjadi manusia di tengah putaran itu.
Bukankah bunga pun tumbuh dari tanah yang diinjak-injak? Bukankah hujan yang kita kutuk seringkali adalah berkah yang tak tahu diri kita minta?
Hidup bukan tentang menjadi paling atas, tapi tentang bagaimana kita bertahan saat berada paling bawah—tentang kesetiaan pada harapan, bahkan ketika ia nyaris padam.
Jadi, bila kau sedang dalam luka, dalam kehilangan, dalam kebuntuan yang memekakkan jiwa. Ingatlah: roda ini belum selesai berputar. Waktumu akan tiba, mungkin bukan hari ini, mungkin bukan esok pagi. Tapi ketika waktunya datang, semua luka akan tampak seperti jalan menuju cahaya yang sekarang masih tersembunyi.
Sebab, dalam roda kehidupan, yang penting bukan di mana kau berada, tapi bagaimana kau terus melaju... tak menyerah... dan percaya.

0 Komentar