Kala senja itu tiba, tak banyak prasangka bahagia yang bisa disajikan. Kisah pilu dalam panggung yang bernama kegagalan, tiba-tiba saja menjadi narasi yang mendominasi dalam bayang-bayang yang belum tentu tersaji. Entahlah, tidak banyak yang bisa diungkapkan secara bebas. Manusia dengan beragam karakter selalu menghadirkan misteri yang mengerikan. Kemarin terlihat bersahabat dan mulutnya penuh dengan bualan simpatik atau bisa jadi empatik, tapi esok bisa saja berubah menjadi manusia durja yang hanya sibuk memenuhi bualan dusta dengan niat picik untuk melindungi dirinya sendiri. Bahkan tak sampai disitu, secara mendadak atas nama kedudukan yang dimilikinya dia berubah menjadi penerjemah atau paranormal yang mampu menterjemahkan setiap diksi kata dari ungkapan kekecewaan seseorang. Selanjutnya hasil terjemahan tersebut ia paksakan menjadi sebuah wacana tentang karakter seseorang untuk memenuhi legitimasi absurdnya.
Diusia yang makin bertambah dan dengan kesempatan yang tak lagi sama, pilihan logis nan bermartabat harus tetap menjadi ingatan yang memandu langkah-langkah pilihan kita. Betapapun kondisinya tak lagi bersahabat, akal sehat dan ketenangan harus tetap terjaga. Itupun jika kita masih sayang dengan kehidupan yang sudah kita miliki. Memang betul realitas hari ini sangat memilukan dan bahkan ada sebagaian harga diri yang terlukai. Tapi apakah berlarut-larut diri dengan kekecewaan akan membuat kehidupan kita lebih baik? Apakah dengan kebencian yang memenuhi seluruh isi ruang hati, ditambah dengan imajinasi diri tentang balas membalas yang tersusun dalam akal akan membuat kita menjadi lebih baik dari yang lain??? oooh..oh..tidak kawan...
0 Komentar