Senja di Pelabuhan Kecil




Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap. (Chairil Anwar, 46)



Silih berganti, datang dan pergi adalah suasana yang tak pernah kebayang sebelumnya. Bahkan  lebih tepatnya aku sendiri tak terlalu memikirkannya. Pilihan selalu menjadi area merdeka bagi mereka yang menyadari perjalanan hidupnya. Diatas segalanya adalah suratan takdir, jika putaran roda selalu menjadi penjaga etik tentang kuota perjalanan manusia.

Tapi semua itu seolah tak berlaku, saat orang yang selama ini memberi banyak inspirasi hendak meninggalkan lingkungan ini. Ya, hatiku sedikit tak karuan, bak air sungai yang tiba-tiba berubah arah, kala hari ini ada suara sumbang memberi informasi yang tidak pernah ingin kudengar. Tapi aku punya daya apa? Setiap kita memang punya jalan hidupnya sendiri. Entah untuk sebuah alasan apa dia memilih meninggalkan lingkungan ini. Namun yang pasti, kesunyian akan benar-benar menghantuiku.

Walau aku sadar, dalam dunia nyata sebenarnya kita tak lagi saling sapa dan tak lagi saling berbagi cerita, tapi aku tetap mengganggapnya sebagai masa tunggu. Aku tetap selalu menanti saat dia datang, saat aku curi-curi waktu hanya untuk melihatnya lewat, saat aku pura-pura berkunjung ke ruangan teman hanya demi bisa memperhatikannya dari jauh. dan itu bagiku sangat berharga.

Tapi hari ini semunya menjadi tak pasti, rangkaian cerita  yang sedang aku perjuangkan seolah makin menukik sebelum aku mampu mengembangkan sayap-sayapnya.  Kabut pekat mulai menyelimuti, pelan namun mempunyai efek rambat yang menggerogoti puing-puing impian. Sejenak pikiranku meraba, untuk memastikan semua baik-baik saja. Namun tetap, semunya jelas tak baik bagiku.

Kehilangan adalah kata yang mempunyai makna dasar hilang yang berarti tak ada lagi. yah, tak ada lagi rona-rona yang bisa aku lihat setiap saat dan setiap aku ingin. Adalah bijak untuk sekedar melepaskannya, entah untuk sementara ataukah selamanya. 

Senja sore dipelabuhan kecil ini, mengajak imajinasiku tentangnya. Tentang segala hal yang pernah terjadi antara aku dan dengannya Bisa jadi ia adalah perahu kecil yang berusaha berlayar dan berharap bertemu perahu besar untuk membawa kedermaga yang ia impikan. Jika itu yang terjadi, selamat jalan dan selamat berpisah adalah cara terbaik untuk memulakan segalanya dari awal.

Sukses selalu, wahai engkau yang telah banyak memberi Inspirasi, walau engkau terlalu malu untuk sekedar mengenalku. Bagiku tak mengapa, pernah menjadi teman yang baik adalah momen berharga yang akan selalu ku simpan dalam bingkai waktuku.

By Syambadaba

Posting Komentar

0 Komentar