Minke
adalah seorang pribumi yang bersekolah di HBS, sekolah bagi para keturunan
Eropa dan bangsawan pribumi. Pada masa itu, pribumi dianggap rendah di tanah
airnya sendiri, lebih rendah daripada keturunan Eropa murni maupun keturunan
Indo. Oleh sebab itu, banyak pribumi yang enggan mengakui ke-pribumi-an mereka.
Namun tidak begitu dengan Minke.
Suatu
hari, Minke ditantang oleh teman sekolahnya, Robert Suurhof untuk menaklukan
seorang gadis yang tinggal di Wonokromo. Sejatinya, Robert hendak mempermalukan
Minke saja sebab ia tahu betul tak ada darah Eropa sama sekali dalam diri
Minke. Tak ingin harga diri pribuminya dianggap pengecut, Minke menerima
tawaran tersebut. Ternyata mereka menuju Boerderij Buitenzorg milik tuan Herman
Mellema, sebuah rumah sekaligus peternakan dan perkebunan terbesar di
Wonokromo. Rumah ini terkenal sangar sebab dijaga oleh seorang Madura yang
bertubuh kekar, Darsam. Itulah sebab mengapa tak ada orang yang berani iseng ke
rumah itu.
Sesampainya
di Wonokromo mereka disambut oleh Robert Mellema, seorang Indo yang kurang
ramah. Robert Suurhof lalu keluar bersama Robert Mellema. Lalu Minke dibiarkan
bersama Adik Robert Mellema yaitu Annelies Mellema, gadis yang menjadi
tantangan bagi Minke. Ternyata Annelies memang sungguh rupawan dan ramah, tidak
seperti kakaknya. Sikapnya sangat bersahabat kepada Minke, bahkan Minke diajak
berkeliling Buitenzorg. Minke lalu dikenalkan kepada ibu dari Ann yaitu Nyai
Ontosoroh. Pada masa itu, kata nyai biasa digunakan untuk menyebut gundik atau
istri tidak sah dari seorang bangsawan atau hartawan. Begitu pula dengan nyai
Ontosoroh, seorang pribumi yang menjadi gundik dari tuan Herman Mellema. Meski
seorang Nyai namun Nyai Ontosoroh terlihat begitu terpelajar, seperti hasil
didikan sekolah Eropa. Hal itu membuat Minke agak ciut nyalinya, takut mendapat
sambutan serupa seperti Robert Mellema dari Nyai. Namun ternyata tidak, Nyai
Ontosoroh sangat welcome kepada Minke dan menjamunya sebagai tamu dengan
pantas. Pertemuan di hari itu ternyata berhasil menambatkan hati Ann kepada
Minke, Ann jatuh cinta kepada pelajar pribumi H.B.S. itu. Memang Ann tak pernah
berteman dengan laki-laki sebelumnya ditambah lagi dengan sikap Minke yang
sungguh sopan dan kecerdasannya membuat Ann semakin menaruh hati, Minke sendiri
pun tak memungkiri bahwa dia menaruh hati pada gadis Indo itu.
Lama
kelamaan Minke semakin sering berkunjung ke Wonokromo meskipun tanggapan yang
diterima Minke dari orang-orang disekitarnya kurang baik. Orang-orang dekat
Minke beranggapan Minke akan mendapat pengaruh yang kurang baik apabila bergaul
dengan seorang Nyai. Namun Minke mrngabaikan semua itu sebab dia tahu sendiri
bahwa Nyai Ontosoroh bukan seperti Nyai lain, dia sungguh beradab seperti
didikan Eropa. Selain itu tentu karena perasaan cintanya kepada Ann.
Semakin
hari semakin sering Minke berkunjung ke Wonokromo, kunjungan yang lebih sering
berasal dari permohonan Ann, bukan kehendak Minke sendiri. Mulailah timbul
gejolak di masyarakat sekitar mengenai keberadaan Minke di rumah Nyai Ontosoroh
itu, Minke akhirrnya tinggal di Wonokromo setelah diminta oleh Ann dan Nyai
Ontosoroh. Namun sekali lagi, Minke mengabaikan semua itu karena memang apa
yang terjadi di rumah itu tidak seperti yang diasumsikan orang lain.
Teman-teman sekolah Minke mulai menghindari Minke, selain karena keberadaannya
di rumah seorang Nyai yang dianggap kurang beretika pada saat itu juga karena
sikapnya yang terlalu revolusioner. Minke gemar menulis dan tulisan-tulisannya
itu kerap menyuarakan harapan kpemimpinan di tangan para pribumi dan keadilan
di Hindia Belanda. Hanya seorang yang kerap membela Minke yaitu Juffrow Magda
Peter, guru bahasa dan sastra Belanda di H.B.S..
Sampai
suatu hari, Minke dipanggil oleh Direktur Sekolah. Minke hendak dikeluarkan
sebab dia diangap telah melanggar aturan sekolah. Dia dianggap telah berbuat
tidak senonoh dengan tinggal serumah dengan seseorang yang bukan istri dan
keluarganya. Sebenarnya ini hanya alasan klise. Alasan yang utama adalah karena
keberanian Minke untuk menyuarakan pendapatnya yang saat itu sangat
bertentangan dengan pandangan para penguasa Hindia Belanda.
Hal itu
tak menyurutkan keberanian Minke untuk terus menyuarakan apa yang menjadi
gagasannya, Minke terus menulis dan tulisannya kerap dimuat di berbagai koran
dan majalah. Minke pun tetap berada di Wonokromo.
Akhirnya
Minke kembali bersekolah di H.B.S. atas jaminan dari Juffrow Magda Peter. Dia
lulus dengan nilai terbaik se-Surabaya. Setelah pengumuman kelulusan itu, Minke
segera meresmikan hubungannya dengan Annelies yang masih ‘ kumpul kebo’ menjadi
suatu hubungan yang resmi. Mereka menikah.
Masalah
baru timbul ketika datang seorang yang bernama Maurits Mellema, anak sah dari
tuan Herman Mellema dengan istrinya yang ada di Amsterdam. Maurits hendak
menguasai seluruh kekayaan tuan Herman Mellema serta mengambil hak asuh atas
Annelies yang dianggap msih dibawah umur. Minke, yan telah menjadi suami
Annelies dan Nyai Ontosoroh berjuang keras untuk mempertahankan apa yang
menjadi hak mereka dan untuk mempertahankan Annelies.
Mereka
berjuang sekuat tenaga di depan hukum maupun di luar hukum dengan cara mencari
dukungan dari tulisan-tulisan Minke. Mereka berjuang namun, pengadilan tetap
memenangkan Maurits Mellema. Akhirnya Annelies dibawa ke Belanda.
" Kita kalah, Ma," bisikku.
" Kita kalah, Ma," bisikku.
Kita
telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."
Sumber: http://nadaharoen.multiply.com

0 Komentar