Ketidaksempurnaan Sesungguhnya Kesempurnaan

Tak ada yang benar-benar utuh di dunia ini. Bahkan bulan pun, yang sering kita puja karena sinarnya yang lembut, sebenarnya penuh luka. Permukaannya bopeng, disayat-sayat waktu dan benturan. Tapi lihatlah justru dalam ketidaksempurnaannya itu, ia tetap menjadi puisi yang jatuh setiap malam ke jendela hati kita.

Begitu pula manusia.Kita sering terjebak dalam pencarian akan kesempurnaan: tubuh yang ideal, hidup yang teratur, cinta yang tanpa cela. Kita ingin segala hal sesuai rencana, seirama, berjalan lurus tanpa gores. Tapi hidup bukan simfoni yang selalu harmoni. Ia kadang memecah nada, kadang bergetar sumbang dan di situlah, justru kita belajar mendengar lebih dalam.

Ketidaksempurnaan membuat kita lebih manusiawi. Ia memberi ruang untuk tumbuh, ruang untuk memaafkan, ruang untuk memahami bahwa keindahan tak selalu hadir dalam garis yang lurus dan bersih. Terkadang, ia justru terletak pada retakan kecil, pada bagian-bagian yang rapuh, pada hal-hal yang tidak kita rencanakan.

Cinta pun demikian. Yang membuatnya indah bukan karena ia tak pernah goyah, tapi karena ia tetap bertahan meski diterpa badai. Karena dua hati memilih untuk tetap saling menatap, meski sama-sama tahu bahwa masing-masing membawa beban dan cela.

Ketidaksempurnaan itu bukan kelemahan. Ia adalah kejujuran. Ia adalah bukti bahwa kita pernah jatuh, pernah kehilangan arah, tapi tetap memilih berdiri dan melangkah. Bahwa kita tak selalu kuat, tapi selalu berusaha.

Dan bukankah justru itu yang membuat hidup terasa begitu nyata? Karena kalau semuanya sempurna, tak akan ada cerita. Tak ada tawa yang tercipta dari kekonyolan kecil, tak ada tangis yang membawa pelajaran, tak ada pelukan yang benar-benar tulus. Yang sempurna sering kali membosankan. Tapi yang tidak sempurna itulah yang membuat kita jatuh cinta berulang kali.

Posting Komentar

0 Komentar