Bergerak menuju riangnya kerumunan, gaduh dalam perseteruan. Satu peristiwa memberi ribuan pelajaran tentang bahayanya kegaduhan, walau diatas nama perkawanan. Mungkin kedewasaan atau jua kepenatan yang diacuhkan.
Kita manusia punya jiwa yang menari-nari dalam ilusi diri. Kesana kemari demi pengakuan yang tak memberi arti, atau hanya sekedar pengalihan diri atas kegagalannya yang tak kunjung menemukan solusi. Entahlah, candu untuk mengutuk dan manyalahkan sebelum semuanya pasti, rupanya menjadi pakem hati yang menghinakan diri sendiri.
Jalannya masih panjang, tergoda mengikuti irama sumbang hanya akan mempercepat diri untuk tumbang. Nampaknya sekedar diam, menghemat bicara dan kembali menjadi diri yang tenang, akan menjadi pilihan yang seimbang dan berharap akhir yang menang.
Kita punya takdirnya masing-masing. Tak ada untungya bersaing apalagi dalam kicauan yang bising, menebar retorika diri yang tak penting.
Manusia dewasa membawa pilihan yang bijak, menjauhkan diri dari kawanan bajak. Bukan zamannya lagi mencitrakan diri yang serba lebih dari sekedar layak, apalgi dengan tampilan yang congkak.
By Syambadaba

0 Komentar