Resensi Buku (Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam)


Judul asli buku karya Graham E. Fuller ini “A World Without Islam”jelas terlihat provokatif dan dapat menimbulkan kesalahpahaman bila diterjemahkan begitu saja dalam edisi bahasa indonesia. Untungnya, Penerbit Mizan menjadikan buku edisi terjemahan bahasa indonesia menjadi “Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam”.
Buku ini tidak berbicara apa yang hilang dari dunia (khususnya peradaban barat, karena edisi asli buku ini diterbitkan untuk pembaca barat) dan menyuguhkan sekumpulan fakta sumbangsih islam bagi dunia. Jika pembaca mengharapkan hal demikian, jelas akan terkecoh dengan buku ini.
Buku ini hadir dan terbit di barat (eropa dan amerika) di mana di sana beredar pemahaman yang salah kaprah tentang islam. Islam masih diasosiasikan sebagai biang keladi segala macam teror dan konflik dunia saat ini, juga masa lalu. Fuller melalui buku ini mencoba menjelaskan bahwa betulkah faktor islam yang membuat segala jenis teror dan konflik dunia? Bagaimana bila islam tidak pernah hadir di muka bumi ini, Apakah teror dan konflik yang pernah dan sedang berlangsung dalam sejarah akan hilang?
Penceritaan Fuller sangat menarik dan berbeda dari buku – buku yang membahas tentang konflik islam-barat dan semacamnya. Fuller membedah sejarah konflik dengan teliti, lalu menghilangkan satu bagiannya (islam), kemudian ia juga berani menyimpulkan “prediksi jalannya sejarah tanpa islam” tersebut. Fuller seperti yang dia jelaskan dalam buku ini, menyatakan bahwa mungkin tidak semua orang sepakat dengan kesimpulan yang akan Ia hasilkan, namun metode dan data – data sejarah yang dipakai bisa jadi bukti kuat untuk orang mempunyai “prediksi lain” tapi sejatinya “akan serupa” setidaknya membuat penilaian orang pada sejarah konflik islam-barat akan sama sekali berbeda.
Fuller berangkat pada asumsi bahwa kejadian sejarah, tidak pernah memiliki faktor tunggal, selalu melibatkan banyak faktor yang saling terkait, tiap faktor itu penting, tetapi bila satu faktor dihilangkan, faktor yang lain akan berinteraksi dengan faktor – faktor lainnya untuk menjadi penyebab dari suatu kejadian sejarah. Dan bukan tidak mungkin kejadian yang timbul tidak jauh berbeda. Begitupun yang terjadi dengan kejadian – kejadian dalam sejarah timur tengah masa lampau dan saat ini maupun dalam kejadian – kejadian yang disebut sebagai konflik antara islam dengan barat.
Evolusi Agama Ibrahim di Timur Tengah
Fuller memulai narasinya dengan menjelaskan tentang evolusi agama (teologis) yang berlangsung di timur tengah, dimana perkembangan evolusi dari kehadiran agama yahudi, kristen ortodoks, lalu islam, yang menyebabkan tidak ada shock teologis di timur tengah. Secara doktrin teologis, islam tidak berbeda jauh dengan agama – agama pendahulunya, semisal yahudi yang menyerukan monoteisme dan hidup menjalani hukum – hukum Tuhan, kemudian hadirnya kristen ortodoks yang lebih mementingkan keimanan daripada hukum – hukum ala ajaran yahudi. Sedangkan kaum yahudi jelas tidak mudah menerima ajaran kristen dengan trinitasnya, dan banyak komunitas timur tengah masa pra islam banyak terpengaruh yahudi dalam hal pemahaman terhadap konsep ketuhanan (monoteisme, karena lebih mudah dicerna dibanding trinitas). Islam lahir seolah sebagai penghubung, di satu sisi mementingkan hukum (syariat) di sisi lain mementingkan pula keimanan dalam konsep monoteisme yang simpel. Pun dalam ajaran dasar masing – masing, sangat lah dijunjung tinggi toleransi terhadap penganut keyakinan lain. Konflik baru terjadi setelah kekuasaan menggunakan agama sebagai dalih untuk menyatakan mana yang benar mana yang salah, mana yang murni mana yang bid’ah. Penguasa Romawi menggunakan ajaran kristen untuk menyebut penganut Yahudi bukan sebagai agama tersendiri akan tetapi sebagai kaum yang menolak ajaran yesus, Paus di masa perang salib dalam seruannya tidak menyebut sama sekali islam/muslim (sebagai agama tersendiri) akan tetapi disebut sebagai pelaku bid’ah (seolah sekte yang menyimpang dari kristen). Pun dalam tradisi romawi baik di Roma maupun di Konstantinopel, begitu banyak sekte – sekte di luar versi resmi ajaran kristen yang difatwakan dewan gereja, mengalami penindasan, pembunuhan, dan sebagainya karena mereka dianggap sebagai pelaku bid’ah, tidak murni lagi ajarannya. Menurut Fuller, Hal ini pun terjadi dalam sejarah timur tengah maupun islam, dimana konflik yang terjadi bukanlah murni karena ajaran islam itu mengharuskan adanya konflik yang demikian, akan tetapi karena kepentingan politik dan ekonomi. Misalnya, peperangan negara – negara timur tengah melawan turki utsmani jelas bukan lagi konflik karena agama walau tiap penguasa arab (timur tengah) berusaha menggunakan retorika agama dalam menjatuhkan legitimasi kekuasaan turki utsmani.
Bahkan konflik panjang antara romawi (katolik) dengan konstantinopel (ortodoks) jelas bukan konflik antara agama karena dilakukan sesama penganut kristen, namun lebih kepada konflik politik dimana faktor agama hanya dipakai sebagai pemersatu ke dalam dan pembeda ke luar. Pun dalam konflik kerajaan jerman (protestan) dengan romawi (katolik), sedikit banyak karena faktor politik dan ekonomi. Bahkan dengan berani memprediksi, jika Islam tidak pernah lahir di timur tengah, secara geopolitik timur tengah akan didominasi penganut kristen ortodoks dimana konstantinopel sebagai penguasanya, dan perang salib kemungkinan akan tetap lahir, mungkin dengan kadar dan dimensi yang berbeda antara roma (katolik) melawan konstantinopel. Kita tentu tahu fakta sejarah perang salib ketiga dimana tentara salib yang berangkat dari eropa yang awalnya bertujuan membebaskan palestina dari penguasaan muslim, berujung pada peperangan dengan konstantinopel dan pasukan dari eropa berhasil merebut tahta konstantinopel untuk sementara waktu. Jelas perebutan monopoli/pengaruh kepausan antara roma dan kontantinopel yang menyebabkan kedua kubu kristen ini terus saling berperang bahkan di saat musuh (islam) berhasil merebut kota suci dimana Yesus dilahirkan. Dalam konteks menjelaskan tentang perang salib, Fuller dengan sangat piawai membedah faktor – faktor sejarah apa sajakah yang memungkinkan itu terjadi dan mencoba menghilangkan faktor islam, lalu memprediksi jalannya sejarah tanpa faktor (islam) tersebut, hingga sampai pada kesimpulan yang disebut di atas, bahwa perang salib dalam skala dan dimensi yang berbeda sangat mungkin akan tetap terjadi walau tanpa adanya faktor islam sekalipun.
Retorika Anti-Barat
Fuller kemudian mencoba membedah faktor adanya retorika anti-barat yang menurut sebagian besar orang barat, merupakan bawaan dari ajaran islam itu sendiri. Fuller menjelaskan, bahwa retorika dan ideologi anti-barat menyebar dari asia, afrika, hingga amerika latin, dengan beragam ideologi, dari mulai nasionalisme, komunisme, dan lainnya. Bahkan di timur tengah sendiri, ideologi marxisme dianut sebagian aktor dan menggemakan retorika anti-amerika. Ideologi nasionalisme arab (disebut sebagai naserisme di mesir, sudan dan sekitarnya, mengikuti penyeru utamanya presiden Gamal Abdul Naser; atau Ba’athisme di suriah, irak, dan sekitarnya mengikuti nama partai Ba’ath) pernah menjadi pemersatu anti-barat (anti-amerika, anti-inggris, anti-israel). Dan layaknya agama kristen menjadi budaya dan pemersatu identitas di amerika latin kemudian memunculkan perlawanan anti-barat yang khas amerika latin dengan warna kristennya, hal serupa sangat wajar terjadi di timur tengah, dimana identitas budaya (dan agama: islam) menjadi pemersatu bagi perlawanan anti-barat untuk mendapat dukungan dan simpati publik lebih luas.
Menantang Hipotesa Huntington
Fuller kemudian coba membantah hipotesa Samuel Huntington tentang konflik peradabannya yang menjelaskan dimana garis – garis perbatasan antar peradaban akan menjadi garis – garis berdarah. Fuller mencoba membedah hubungan dan konflik antara islam dengan rusia, india, china, dan eropa.
Dalam konteks hubungan islam dengan rusia, Fuller menjelaskan terlebih dahulu tentang klaim Rusia sebagai Romawi Ketiga, penguasa yang paling berhak menjadi penerus ajaran kristen (setelah keruntuhan kerajaan romawi dan konstantinopel), kerajaan rusia resmi menganut kristen ortodoks dan mempromosikan diri sebagai kelanjutan penguasa konstantinopel. Dalam perjalanan sejarahnya, tarik – menarik antara kepentingan gereja ortodoks untuk lebih memperlihatkan sifat ortodoks pada rusia atau sifat plural dimana di sebagian negara taklukan rusia terdapat komunitas (saat ini negara) berpenduduk mayoritas muslim dengan bahasa dan budaya lebih dekat kepada turki dibanding rusia. Jumlah penduduk muslim yang besar (terutama di daerah taklukan, ini menyebabkan terbesar dibanding negara eropa lainnya) membuat rusia memilih bentuk kebijakan yang lebih prulalistik dalam konteks keagamaan. Sedangkan konflik dengan negara taklukan, seperti misalnya rusia versus cechnya, pastilah terjadi dan itu tidaklah khas kristen ortodoks melawan islam. Kemunculan komunisme di rusia (yang berubah menjadi uni soviet) menambah suram konflik dengan negara taklukan yang beragama islam, dan hingga kini trauma dan kecurigaan mendalam umat islam pada rusia (bekas negara komunis) masih belum lah hilang. Setelah sebagian besar negara pecahan soviet merdeka dan membentuk negara sendiri, konflik rusia dengan “islam” mungkin tinggal sedikit, yaitu misalnya chechnya, dimana konflik lama bahkan sebelum rusia berubah menjadi uni soviet. Perjuangan politik secara damai dari pejuang checnhya guna mendapatkan kemerdekaan, diinfiltrasi oleh pejuang – pejuang dari gerakan radikal islam dari luar checnya pasca perang soviet-afghanistan. Jelas hubungan rusia dan islam sangat lah kompleks dan mengalami pasang surut, akan tetapi tidak dalam kondisi garis perbatasan yang berdarah – darah seperti yang disebutkan Huntington.
Terlebih, dalam konteks perimbangan adikuasa dunia, rusia masih diharapkan terutama oleh negara timur tengah untuk mengerem kebijakan amerika.
Fuller pun memperlihatkan posisi yang sering bersebrangan antara eropa (kristen katolik) dengan rusia (kristen ortodoks) yang memperlihatkan bahwa konflik yang terjadi tidak bisa disederhanakan dengan islam versus rusia begitu saja.
Dalam membedah hubungan antara islam dengan India. Fuller memperlihatkan perbedaan penerimaan islam di wilayah selatan india (gujarat) dengan wilayah utara india. Proses penerimaan islam pada komunitas hindu india di wilayah selatan relatif berlangsung damai karena islam masuk melalui interaksi sosial (dakwah) antara komunitas pedagang arab/turki dengan penduduk setempat. Berbeda dengan penaklukan wilayah selatan india kemudian berdiri dinasti mughal, dan ini bukanlah khas konflik islam-hindu, karena dimanapun konflik antara budaya penakluk dengan budaya pribumi yang ditaklukan sesuatu yang tak terelakkan. Konflik diperparah oleh kedatangan inggris dimana pada awalnya inggris lebih memihak komunitas hindu daripada komunitas muslim, walau pada akhirnya inggris mengakui kesalahan tersebut karena komunitas hindu pun akan melalukan perlawanan kepada inggris. Akan tetapi, keberpihakan awal inggris kepada komunitas hindu dimanfaatkan gerakan radikal hindu untuk melakukan balas dendam yang sudah lama dipendam kepada komunitas muslim. Hingga india merdeka, persoalan ini belum lah berakhir, akan tetapi, solusi pendirian negara pakistan (islam) yang terpisah dengan india (hindu) hanya menambah derita komunitas islam di india yang semakin menjadi minoritas. Konflik diperparah dengan terlibatnya pakistan dalam melatih, mendanai, dan menyusupkan kelompok – kelompok anti-india. Kekerasan antara hindu – muslim seringkali menjadikan komunitas muslim sebagai korban yang paling banyak dan paling rawan karena berada pada posisi minoritas. Jelas dalam kasus india, islam bukan lah ideologi yang secara superior ingin menghabisi dan menciptakan konflik dengan yang lain, akan tetapi islam justru menjadi kelompok minoritas yang mencoba mempertahankan diri (baik secara budaya, eksistensi, maupun agama). India dengan Taj Mahal dan peninggalan pengetahuan di masa dinasti mughal (islam) merupakan sejarah tersendiri yang sulit untuk tidak disebutkan mewarnai india saat ini.
Dalam konteks hubungan islam dengan china, Fuller pun mencoba menarasikan, bahwa hubungan islam dan china pun kompleks dan tidak bisa disimplifikasi sebagai perbatasan yang berdarah – darah. Hubungan islam dengan china dimana penganut islam mampu diterima dan bahkan berperan aktif dalam sejarah kerajaan china terlihat dari kisah masyhur Laksamana Cheng Ho. Akan tetapi, di akhir kerajaan china dimana dinasti Tang yang berasal dari etnis manchu, dijadikan alat propaganda menjelang revolusi china yang dipimpin oleh sun yat sen. Sun Yat Sen mencoba memprosikan nasionalisme Han dimana etnis Han dianggap lebih layak berkuasa di china dibanding penguasa saat itu (etnis manchu) walau pada akhirnya Sun Yat Sen meluaskan nasionalisme etnisnya tidak hanya pada etnis Han. Akan tetapi, budaya Han jelas mendominasi china. Dimana etnis uighur (mayoritas berada di provinsi xinjiang) beragama islam dan dengan budaya lebih dekat ke keturunan turki, semisal negara – negara sekitarnya yang pecahan soviet. Revolusi Mao menambah runyam permasalahan perbedaan budaya ini. Namun itu bukan lah khas china versus muslim karena hal yang sama terjadi pada penduduk tibet yang mayoritas beragama budha dengan budaya yang berbeda pula dengan budaya Han. Bahkan hingga kini pemimpin spiritual tibet dan sebagian besar pendukungnya masih hidup di pengasingan.
Seperti halnya hubungan rusia dengan komunitas radikal islam, china pun tergiur bergabung dalam agenda perang melawan terorisme guna menjadi justifikasi melakukan represi dan diskriminasi pada komunitas uighur. Jelas itu menambah dimensi konflik. Akan tetapi, china bersama rusia sebagai kekuatan ekonomi baru dunia, diharapkan oleh sebagian komunitas islam menjadi penyeimbang baru bagi dominasi amerika. Bukan tidak mungkin hubungan china-islam akan berubah menjadi lebih positif, begitu juga hubungan rusia-islam bila negara-negara islam mempergunakan pengaruh politik (dan ekonominya) bagi perbaikan – perbaikan yang ada misalnya untuk penyelesaian konflik di checnya (rusia) maupun uighir (china). Karena kerjasama politik dan ekonomi semacam itu sangat dimungkinkan dan kondisi demikian jauh dari gambaran perbatasan yang berdarah-darah
Dalam konteks hubungan eropa dengan islam, bisa dilihat dihttps://pijarkecillibrary.wordpress.com/2016/02/26/permasalahan-muslim-di-eropa/
Terror & Kekerasan
Fuller kemudian beranjak menjelaskan tentang penggunaan teror/kekerasan bukan lah khas islam, bahkan daftar organisasi teroris yang dicatat di eropa sebelum peristiwa 11 September 2001, sebagian di dominasi oleh organisasi komunis, ultra-kanan, dan fasis. Konflik kekerasan (perang) paling mutakhir di abad 20 yaitu perang dunia pertama dan kedua bukanlah karena alasan agama apalagi islam.
What next?
Di akhir narasinya, Fuller mencoba memberikan solusi, lalu jika semua konflik di timur tengah atau konflik dengan barat bukan karena faktor islam, lalu apa yang harus dilakukan barat?
Solusi yang ditawarkan fuller tidaklah asing dan baru, hanya berupa pengulangan – pengulangan yang sering disebutkan para kritikus kebijakan barat, diantaranya:
1. Barat harus menghentikan intervensi baik secara militer maupun secara politik kepada negara – negara islam, karena intervensi tersebut hanya akan menjadi pembenaran bagi propaganda anti-barat.
2. Barat harus berhenti mendukung diktator – diktator di timur tengah / negara islam, dan mendorong adanya demokratisasi.
3. Barat harus membiarkan aktor – aktor demokrasi lokal mencari jalannya sendiri bagi terbentuknya demokrasi yang cocok bagi mereka
4. Barat harus menghilangkan cara – cara represi bagi penindakan terhadap terorisme dan lebih mengutamakan instrumen hukum.
5. Barat harus mencari penyelesaian persoalan palestina dengan segera karena permasalahan palestina selalu digunakan gerakan radikal sebagai jusutifikasi sikap anti-barat.
6. Anggaran bagi perang melawan teror, hendaknya dialihkan untuk lebih membantu negara – negara islam dalam kerangka memberikan pelayanan kepada publik seperti penyediaan sarana pendidikan, kesehatan, dan lainnya, agar negara memiliki legitimasi dan kepercayaan di mata rakyatnya sehingga rakyatnya tidak tertarik bergabung dengan kelompok radikal. Usulan ini mengingatkan saya pada film “Charlie’s War” dimana seorang senator amerika bernama Charlie yang berperan dalam membujuk pemerintah amerika menggelontorkan dana bagi dukungan terhadap perang afghanistan melawan soviet. Charlie di akhir film tersebut mengusulkan agar amerika melanjutkan bantuan dana bagi afghanistan untuk pembangunan sarana sekolah, dan lainnya untuk membuat afghanistan tetap berada di pihak amerika. Akan tetapi amerika lebih memiliki perhatian pada perebutan kekuasaan di eropa menjelang keruntuhan uni soviet. Dan kita pun tahu bahwa afghanistan setelah itu dirundung perang saudara, dimana pemenangnya Taliban akhirnya beberapa tahun kemudian memberikan ruang dan perlindungan bagi Osama bin Laden menjalankan misinya melawan amerika.
Kritik terhadap Buku ini
Buku Fuller ini tidak lah sepi dari kritik, sebagian tidak sepakat dengan kesimpulan Fuller mengenai prediksi sejarah yang ia buat setelah menghilangkan faktor islam. Sebagian kalangan misalnya penganut kristen ortodoks membantah bahwa agamanya bisa menjadi biang konflik seperti hal yang mereka persepsikan seperti islam saat ini. Kalangan islam pun membantah buku ini dimana Fuller seolah memposisisikan Islam sebagai suatu hal yang kecil dalam sejarah dan tidak menjadi faktor pengubah peradaban.
Terlepas dari kritik – kritik tersebut, seperti yang saya bilang di awal tulisan ini, buku ini sangat menarik karena metode Fuller yang berbeda dan berani dalam memberikan narasi sejarah alternatif seandainya “Dunia Tanpa Islam”
https://pijarkecillibrary.wordpress.com/2015/01/31/ulasan-buku-apa-jadinya-dunia-tanpa-islam/

Posting Komentar

0 Komentar