"Hujan batu dikampuang kito, hujan ameh dikampuang urang, walau bak mano misikin misikin awak, bacinto juo badan nak pulang". Jika diterjemahkan secara bebas artinya " Hujan batu di kampung sendiri, hujan emas di kampung orang, walau kita miskin tetap juga merindukan kampung halaman"..(mohon dikoreksi kalo salah, haha)
Bukan maksud sok tahu, tapi mengutip pepatah minang yang populer dimaksud, mengingatkan para perantau agar tak melupakan kampung halamannya. Mungkin situuh juga pernah dengar, "sungguh tak tahu budi, jika kau tak pernah merindukan kampung halamanmu".
Kampung halaman,..yah jika diresapi dengan dalam (tidak pakai acara ketiduran y), berarti asal muasal kita dilahirkan dan dibesarkan. Preferensi normatifnya berarti dilahirkan, setelah itu dibesarkan atau dilahirkan saja tapi dibesarkan di daerah lain. Nah loh,..yang jadi soal, jika dilahirkan di satu daerah, tapi saat kita dibesarkan kita berada di daerah lain, terus dia menetap lama di daerah lain lagi, kira-kira yang manakah kampung halaman kita?
Semua memang tergantung pada pilihan nurani yang terdalam, kira-kira daerah mana yang telah membuatmu memiliki arti dan kenangan masa kecil yang layak untuk dikenang. Tapi terlepas dari semua perdebatan itu, sungguh tak elok jika kita hanya mengenang tanpa ada pembelajaran berharga yang bisa dikunyah kunyah pada rangkaian peristiwa yang sudah terlewati di kampung yang bernama "halaman". yah pembelajaran untuk selalu menghargai dan mensyukuri atas kesempatan menjadi manusia yang mampu melihat, merenungi, meraba, dan merasakannya.
Mungkin situh pernah jua mengalami, saat momen pulang kampung terasa seperti ada energi yang memaksa kita untuk merasakan ketenangan yang sulit untuk diungkapkan. Ketenangan yang membuat kita mampu mengurai beragam rupa persoalan yang menghiasi rutinitas kita di kota. Bahkan lebih dalam lagi, hal-hal kecilpun mampu membuat rangkaian peristiwa yang sudah terlewati tersaji kembali dan sejenak meleburkan semua pelik irama sumbang rutinitas hidup.
Dan pertanyaannya sekarang, adakah ruang rindu untuk kampung halaman kita??? atau mungkin kita sengaja ingin menghapusnya dalam kepalsuan sosialita kota yang telah mengaburkan identitas kita sebagai mahluk yang harusnya tak boleh melupakan asal muasal kita dilahirkan dan dibesarkan.
Salam Creative Indonesia Jaya
Syambadaba.blogspot.com
Salam Creative Indonesia Jaya
Syambadaba.blogspot.com
0 Komentar