Di langit malam yang tenang, rembulan menggantung seperti rahasia lama yang tak pernah usai dibisikkan bintang. Ia tak bersuara, namun kehadirannya menyuarakan banyak hal. Tentang rindu, doa-doa yang terbang dari jendela-jendela sepi, hingga harapan yang terbungkus diam.
Kilau rembulan bukan cahaya dari dirinya sendiri. Ia meminjam cahaya matahari dan dari pantulan itulah, ia belajar menjadi terang di gelap yang pekat. Bukankah begitu pula manusia? Kita pun kadang hidup dari cahaya yang kita serap dari orang lain, dari cinta ibu, pelukan sahabat, atau senyum seseorang yang tak kita kenal namun hadir di saat yang tepat.
Di desa-desa yang sunyi, di kota-kota yang belum benar-benar tidur, rembulan tetap bersinar. Ia menyinari pekarangan sempit dengan suara jangkrik, menyelinap masuk ke sela-sela genting bocor, dan diam-diam menemani mereka yang terjaga oleh resah.
Kilau rembulan bukan untuk dirinya sendiri. Ia memberi tanpa memilih siapa yang patut menerima. Begitulah semestinya cahay, hadir, menyentuh, dan menghangatkan tanpa pamrih, tanpa batas.
Malam boleh kelam, tapi selama masih ada rembulan di langit, kita tahu bahwa terang tak pernah benar-benar pergi.
By Anjas diantara rimbunan pohon belantara

0 Komentar